Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Melemah ke Level Rp17.420, Dipicu Gejolak Geopolitik Global
Ibrahim menilai, pelemahan rupiah masih dipengaruhi gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas ,Ibrahim Assuaibi memproyeksikan nilai tukar rupiah melemah pada rentang Rp17.380 hingga Rp 17.420 hingga penutupan perdagangan hari ini Kamis (7/5).
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.380 - Rp17.420," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Kamis (7/5).
Ibrahim menilai, pelemahan rupiah masih dipengaruhi gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran. Di mana berdasarkan informasi terbaru, pasar merespons positif terhadap pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengindikasikan kemungkinan kesepakatan damai dapat tercapai untuk mengakhiri perang dengan Iran. Walaupun belum ada reaksi langsung dari Teheran.
"Pada hari Selasa, Trump secara tak terduga mengatakan ia akan menghentikan sementara operasi untuk membantu mengawal kapal melalui Selat Hormuz, dengan alasan kemajuan menuju kesepakatan komprehensif dengan Iran, tanpa memberikan rincian tentang kesepakatan tersebut," ujarnya.
Namun demikian, Trump mengatakan Angkatan Laut AS akan melanjutkan blokade pelabuhan Iran. Selat Hormuz, yang biasanya membawa kargo setara dengan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, telah terputus sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari.
Sementara itu, pengumuman Trump datang hanya beberapa jam setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberi pengarahan kepada wartawan tentang upaya yang diumumkan pada hari Minggu, untuk mengawal kapal tanker yang terdampar melalui selat tersebut.
Pada hari Senin, militer AS mengatakan telah menghancurkan beberapa kapal kecil Iran, serta rudal jelajah dan drone, saat memandu dua kapal keluar dari Teluk melalui selat tersebut.
Faktor Internal
Sedangkan faktor dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni pernyataan pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengatakan perekonomian Indonesia mulai menunjukkan percepatan pertumbuhan setelah mencatat kinerja positif pada kuartal I-2026.
Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen menjadi indikasi bahwa tren ekonomi nasional mulai bergerak ke arah yang lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya.
"Percepatan ini belum sepenuhnya dipahami oleh pelaku pasar, yang justru masih menunjukkan kekhawatiran dan cenderung menarik dana dari pasar modal. Oleh karena itu, pemerintah akan menjaga momentum pertumbuhan ini pada kuartal berikutnya melalui berbagai kebijakan lanjutan. Koordinasi dengan Bank Indonesia juga terus diperkuat, khususnya dalam menjaga likuiditas sistem keuangan," ujarnya.
Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi dalam waktu dekat. Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap akselerasi pertumbuhan ekonomi dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi aktivitas usaha serta kepercayaan pasar ke depan.
"Namun banyak ekonom yang mempertanyakan hasil perhitungan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sebesar 5,61 persen. Salah satunya data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dikeluarkan Bank Indonesia pada Maret 2026 sebesar 122,9 basis poin atau turun dibandingkan Januari 2026 sebesar 127,0 basis poin," pungkasnya.