Pengusaha Khawatir Ancaman PHK Dipicu Pelemahan Kurs Rupiah
Pengusaha sudah mulai waspada ketika rupiah menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, namun pelemahan yang berlanjut hingga menembus level Rp17.600 per USD.
Kamar Dagang dan Industri Indonesia mengungkapkan kekhawatiran mengenai potensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) jika tekanan terhadap sektor usaha terus berlanjut. Salah satu faktor yang menimbulkan keprihatinan adalah penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang menyatakan bahwa pelemahan rupiah mulai berdampak pada biaya operasional perusahaan, terutama bagi industri yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor.
Ia menambahkan, kondisi ini dapat mengganggu arus kas dan menekan omzet perusahaan, yang pada akhirnya bisa memicu rasionalisasi tenaga kerja.
"Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan, dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja, tentu ini sesuatu yang kita hindari," kata Sarman kepada Liputan6.com, Jumat (15/5).
Sarman menegaskan bahwa kalangan pengusaha mendukung berbagai langkah pemerintah untuk memperkuat kembali nilai tukar rupiah. "Kita mendukung penuh berbagai upaya, usaha, dan langkah pemerintah agar penguatan nilai tukar rupiah ini segera terjadi," imbuhnya.
Ia menjelaskan bahwa pengusaha sudah mulai waspada ketika rupiah menyentuh level Rp17.000 per dolar AS, namun pelemahan yang berlanjut hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS kini menjadi sinyal bahaya bagi dunia usaha.
Oleh karena itu, ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor ketenagakerjaan. "Satgas Mitigasi PHK yang dibentuk pemerintah sudah harus segera ditindaklanjuti agar dapat membantu dunia usaha untuk mengantisipasi terjadinya rasionalisasi tenaga kerja," ujarnya.
Dengan demikian, tindakan preventif yang tepat dari pemerintah sangat diharapkan agar dunia usaha dapat bertahan dan tidak terpaksa melakukan PHK yang merugikan banyak pihak.
Pengusaha Masih Tahan Kenaikan Harga
Sebelumnya, Kadin juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah mulai menggerus daya tahan pelaku usaha. Sarman menyebutkan bahwa rupiah sempat menyentuh level Rp17.614 per dolar AS, yang merupakan salah satu titik terlemah dalam sejarah. "Rupiah kini kembali ke level pelemahan terdalam sepanjang sejarah, mencapai Rp17.614 per dolar AS melemah 0,48 persen.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik. Pelemahan ini sangat menekan psikologi pelaku usaha dan menjadi alarm yang perlu diwaspadai," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tekanan kurs membuat biaya impor bahan baku meningkat dan memengaruhi struktur biaya produksi perusahaan.
"Jika pelemahan ini terus berlanjut maka daya tahan pelaku usaha akan terbatas dan dikhawatirkan terjadi penyesuaian harga di tingkat konsumen," kata dia.
Meskipun demikian, pelaku usaha masih berpikir ulang untuk menaikkan harga produk karena khawatir akan memukul daya beli masyarakat dan memperburuk inflasi. "Jika kenaikan harga produk ini mengalami penyesuaian tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi. Termasuk pelaku usaha UMKM juga akan semakin tertekan karena harga bahan baku, logistik, dan distribusi naik, sementara untuk menaikkan harga penuh risiko takut tidak laku," tuturnya Sarman.