Rupiah Melemah saat Iduladha, Diprediksi Bakal Sentuh Level Rp17.850 per USD
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah pada perdagangan yang bertepatan dengan libur Iduladha hari ini, Rabu (27/5).
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.790 hingga Rp17.850 per dolar AS.
"untuk perdagangan (libur Iduladha), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.790 - Rp17.850," kata Ibrahim kepada Media dalam keterangannya, Rabu (27/5).
Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (26/5), rupiah ditutup melemah 52 poin ke level Rp17.796 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.744. Bahkan selama sesi perdagangan, mata uang Garuda sempat terdepresiasi hingga 55 poin sebelum memangkas sebagian pelemahannya menjelang penutupan pasar.
Menurut Ibrahim, pelemahan rupiah yang berkepanjangan mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional, terutama karena dampaknya terhadap sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor.
Pelemahan Rupiah Picu Kenaikan Biaya Produksi
Ibrahim menjelaskan, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS telah memicu kenaikan biaya produksi di berbagai sektor industri. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor, sekaligus menghadapi perlambatan permintaan dari pasar ekspor.
Akibatnya, sejumlah perusahaan mulai melakukan langkah efisiensi untuk menjaga kelangsungan usaha. Dalam beberapa kasus, kebijakan tersebut berujung pada pengurangan tenaga kerja hingga penghentian operasional pabrik.
"Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belum jelas sampai kapan pelemahan ini akan terjadi, dan berdampak terhadap meningkatnya biaya produksi perusahaan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku impor dan pasar ekspor sehingga meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK)," jelasnya.
Industri Elektronik hingga Otomotif Mulai Terdampak
Dampak pelemahan rupiah mulai terlihat di sejumlah sektor manufaktur. Salah satu contohnya adalah penutupan operasional pabrik elektronik PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang mengakibatkan sekitar 350 pekerja kehilangan pekerjaan.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan biaya impor sekaligus melemahnya pasar ekspor yang menjadi salah satu tujuan utama penjualan perusahaan.
Tekanan serupa juga mulai dirasakan sektor otomotif. Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor membuat daya beli masyarakat melemah dan berdampak pada penurunan permintaan pasar.
Di Sidoarjo, Jawa Timur, perusahaan otomotif CV Asri dilaporkan telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 200 karyawan akibat penurunan penjualan kendaraan.
"Selain sektor elektronik, tekanan juga terjadi di industri otomotif. Kenaikan harga kendaraan akibat mahalnya komponen impor mulai menekan permintaan pasar. Di Sidoarjo, Jawa Timur, CV Asri yang bergerak di sektor otomotif telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerja akibat penurunan penjualan kendaraan. Tekanan juga mulai dirasakan industri tekstil, garmen, dan alas kaki," ujarnya.
Ibrahim memperingatkan bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja masih berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Ia memperkirakan jumlah pekerja yang terdampak PHK di sektor formal industri dapat mencapai sekitar 9.000 orang dalam tiga bulan mendatang.