Bukan Hanya Kebijakan BI, Ini Faktor Lain Terkait Pelemahan Rupiah
Terdapat sejumlah faktor lain yang ikut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar keuangan global.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pergerakan nilai tukar rupiah tidak hanya dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia semata, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor eksternal yang berkembang di pasar global.
Pernyataan tersebut disampaikan Josua Pardede saat merespons pandangan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengenai pergerakan rupiah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar.
“Untuk respons dari Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo itu adalah soal hitung-hitungan dari teori tadi. Hitungan saya mestinya sama, tetapi rupiah ini tidak berada di ruang hampa,” ujar Josua Pardede dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/5).
Faktor Lain Penyebab Rupiah Melemah
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor lain yang ikut memengaruhi pergerakan rupiah di pasar keuangan global. Faktor tersebut antara lain kondisi pasar modal, keputusan investor asing, indeks global seperti MSCI, hingga dinamika aliran modal asing ke Indonesia.
“Ada faktor lain, ada mood investor, ada MSCI, ada keputusan foreign inflow kita. Itu yang turut memengaruhi sehingga kita tidak bisa melihat kebijakan Bank Indonesia secara kosong,” katanya.
Josua menjelaskan, kebijakan suku bunga maupun langkah stabilisasi rupiah dari Bank Indonesia tetap penting untuk menjaga kepercayaan pasar. Namun, efektivitas kebijakan tersebut juga sangat dipengaruhi sentimen global, kondisi geopolitik, hingga arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve.
Ia menilai volatilitas rupiah saat ini masih berada dalam kondisi yang wajar, meskipun pasar keuangan global tengah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian ekonomi dunia.
Menurut Josua, koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi tekanan eksternal terhadap nilai tukar rupiah.
“Jadi kita harus melihatnya secara menyeluruh, bukan hanya satu kebijakan Bank Indonesia saja,” ujar Josua.