Dubes Djauhari Dorong Hubungan Dagang RI-China Jangka Panjang, Bukan Sekadar Pembeli-Penjual
Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menekankan pentingnya membangun Hubungan Dagang RI-China Jangka Panjang yang melampaui transaksi jual-beli biasa, mendorong kemitraan strategis dan investasi.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, menyerukan kepada para pengusaha Indonesia dan China untuk membangun hubungan bisnis yang bersifat jangka panjang dan dilandasi kepercayaan. Ia menekankan pentingnya melampaui sekadar relasi pembeli-penjual, guna menciptakan kemitraan yang lebih strategis dan berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Bisnis Indonesia-China yang berlangsung di Shanghai, Selasa, dihadiri oleh Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri, Konsul Jenderal RI Shanghai Berlianto Situngkir, serta sekitar 30 pelaku usaha dari kedua negara.
Dubes Djauhari menyoroti perubahan paradigma ekonomi China yang kini telah bertransformasi menjadi "laboratorium inovasi dunia", bukan lagi hanya "pabrik dunia". Oleh karena itu, ia mengajak pelaku usaha Indonesia untuk melihat mitra China sebagai rekan dalam teknologi, produksi, serta pintu masuk penting menuju rantai pasok global. Pandangan ini membuka peluang baru bagi kolaborasi yang lebih mendalam dan saling menguntungkan di masa depan.
Forum bisnis ini dirancang khusus untuk memberikan ruang apresiasi bagi pelaku usaha Indonesia yang membawa produk-produk khas seperti buah, kopi, rempah-rempah, dan makanan ringan untuk disajikan di Tiongkok. Dengan dukungan insentif dari Indonesia, Dubes Djauhari optimis forum ini menjadi ajang dialog yang sangat tepat untuk meraih transaksi skala besar. Tujuannya sederhana, yaitu agar produk Indonesia dapat "go global" dan dikenal luas di pasar internasional.
Memperkuat Kemitraan Strategis dan Investasi dalam Hubungan Dagang RI-China Jangka Panjang
Hubungan dagang antara Indonesia dan China telah menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan, menjadikan China sebagai mitra dagang terbesar Indonesia sejak tahun 2011. Data menunjukkan bahwa total perdagangan kedua negara mencapai 167,5 miliar dolar AS pada tahun 2025, sebuah peningkatan drastis lebih dari 113 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Angka ini jauh melampaui total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa yang sekitar 30 miliar dolar AS, serta dengan Amerika Serikat yang berada di kisaran 50 miliar dolar AS.
Dalam upaya memperdalam kemitraan, Dubes Djauhari mendorong agar transaksi tidak hanya terbatas pada pembelian produk jadi, melainkan juga menjajaki peluang usaha patungan atau joint venture dengan Indonesia. Pemerintah Indonesia secara aktif menawarkan insentif yang semakin menarik untuk program hilirisasi industri, sebuah strategi yang kini menjadi prioritas utama dalam pembangunan ekonomi nasional. Ini membuka kesempatan bagi investasi China di sektor-sektor strategis Indonesia.
Kehadiran berbagai produk Indonesia di China, yang merupakan hasil inovasi dan peningkatan standar mutu berkelanjutan, menjadi bukti komitmen Indonesia terhadap kualitas. Dubes Djauhari meyakinkan para buyer, importir, dan mitra bisnis dari China bahwa saat ini adalah momen yang sangat tepat untuk berinvestasi dan berkolaborasi. Inisiatif ini diharapkan dapat mendorong terciptanya Hubungan Dagang RI-China Jangka Panjang yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Membuka Peluang Ekspor UMKM di Pasar Global
Potensi besar UMKM Indonesia di pasar internasional kembali terbukti sehari sebelum forum bisnis utama berlangsung. UMKM di sektor makanan dan minuman berhasil mencatatkan potensi transaksi senilai 3,5 juta dolar AS, atau setara dengan sekitar Rp62 miliar, untuk berbagai produk unggulan Indonesia. Produk-produk tersebut meliputi keripik tempe, keripik buah, abon ikan, gula aren, dan kopi, yang menunjukkan keragaman dan kualitas produk lokal.
Penandatanganan potensi transaksi ini dilakukan di paviliun Indonesia dalam pameran makanan internasional "Salon International de l'Alimentation" (SIAL) Shanghai 2026. Keberhasilan ini menggarisbawahi daya saing produk UMKM Indonesia di kancah global dan penerimaan pasar yang positif terhadap inovasi produk pangan dari tanah air. Partisipasi dalam ajang internasional semacam ini sangat krusial untuk memperluas jangkauan pasar.
UMKM yang berpartisipasi dalam pameran tersebut merupakan binaan khusus dari Bank Indonesia, yang telah melalui proses kurasi dan seleksi ketat dari ratusan pelaku UMKM makanan dan minuman. Dari proses seleksi tersebut, terpilih 7 UMKM kategori makanan, camilan, dan rempah-rempah, yang menampilkan produk seperti keripik tempe, bawang goreng, abon ikan, cokelat, dan gula aren. Selain itu, 11 UMKM kopi juga turut serta untuk mewakili Indonesia.
Keikutsertaan UMKM binaan Bank Indonesia di SIAL Shanghai 2026 ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi produk pangan Indonesia di pasar internasional, khususnya di China. Lebih dari itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk membuka peluang ekspor yang lebih luas bagi UMKM nasional, membantu mereka menembus pasar global dan berkontribusi pada peningkatan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews