BI Perkuat Ketahanan Pangan Sulut Melalui Pemberdayaan Petani dan UMKM
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) berupaya memperkuat ketahanan pangan Sulut dengan memberdayakan petani dan UMKM. Simak bagaimana program inovatif ini mendukung stabilitas harga di wilayah tersebut.
Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Utara (Sulut) aktif berupaya memperkuat ketahanan pangan dan mengendalikan harga di wilayah tersebut. Upaya ini dilakukan melalui pemberdayaan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai sektor strategis. Program ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kapasitas ekonomi lokal secara berkelanjutan.
Kepala BI Perwakilan Sulut, Joko Supratikto, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari program Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) dan Wirausaha Unggulan Sulawesi Utara (WANUA). Program tersebut telah berjalan sejak tahun 2020 dan terus diperluas cakupannya hingga saat ini. Fokus utama adalah komoditas strategis seperti barito dan padi.
Hingga periode 2020–2025, BI telah membina 84 petani unggulan dan 144 UMKM unggulan di Sulut. Sebagian besar petani binaan ini berfokus pada budi daya pangan strategis, termasuk cabai rawit, yang menjadi komoditas penting untuk stabilitas harga.
Inisiatif BI dalam Penguatan Ketahanan Pangan
Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Salah satu fokus utamanya adalah penguatan ketahanan pangan melalui program pemberdayaan. Program ini dirancang untuk memberikan dukungan komprehensif kepada para pelaku di sektor pertanian dan UMKM.
Melalui PATUA dan WANUA, BI tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga pendampingan berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar petani dan UMKM mampu beradaptasi dengan tantangan pasar dan iklim. Inisiatif ini juga selaras dengan upaya pemerintah dalam menjaga inflasi pangan di tingkat regional.
Joko Supratikto menjelaskan bahwa program ini mencakup berbagai aspek, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga perluasan akses pasar. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pangan yang lebih mandiri. Dengan demikian, fluktuasi harga komoditas pangan dapat diminimalisir.
Fokus Pemberdayaan di Bolaang Mongondow Timur
Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) menjadi salah satu wilayah prioritas dalam program pemberdayaan BI Sulut. Sebanyak enam petani unggulan dari Boltim telah menjadi bagian dari program PATUA. Mereka adalah Poktan Sinar Onggole, Abdul Kader Alhabsy, Poktan Luak Permai, Poktan Blessing, Poktan Puharapen, dan Poktan Matuari.
Lima dari kelompok tani tersebut secara khusus berfokus pada budi daya cabai rawit, komoditas yang sangat strategis. Keterlibatan Boltim dalam program ini menempatkannya pada posisi keempat sebagai kabupaten/kota dengan jumlah PATUA terbanyak se-Sulawesi Utara. Ini menunjukkan potensi besar daerah tersebut dalam mendukung ketahanan pangan.
Upaya pengendalian inflasi pangan di Boltim dilaksanakan melalui berbagai inisiatif program. Program tersebut mencakup sisi hulu hingga hilir, dengan fokus pada penguatan kapasitas dan kelembagaan. Selain itu, perluasan akses pasar dan keuangan juga menjadi prioritas utama.
Pengembangan Kapasitas dan Akses Keuangan Petani
Pada tahun 2026, program pemberdayaan petani di Boltim diperluas dan diperdalam untuk hasil yang lebih optimal. Penguatan kapasitas petani dilakukan melalui Mindpreneur Bootcamp PATUA. Bootcamp ini bertujuan mengembangkan pola pikir adaptif dan inovatif di kalangan petani.
Pelatihan PATUA Tahap I kini juga dirangkaikan dengan Pelatihan terkait Iklim oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kolaborasi ini penting untuk mengoptimalkan kegiatan produksi pertanian. Petani diajarkan metode tanam paling efisien serta waktu tanam paling optimal.
Pendampingan Sekolah Lapang juga menjadi bagian integral dari program ini, dilaksanakan di salah satu demplot PATUA. Petani diedukasi tentang cara pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang mampu meningkatkan kesuburan tanah. POC juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas tanaman secara berkelanjutan.
Penguatan basis kapasitas produksi di Boltim turut dilakukan melalui penyaluran alat dan mesin pertanian (Alsintan) serta sarana produksi (Saprodi). Bantuan ini meliputi alkon, hand tractor, sprayer, bibit, pupuk, serta pengendalian hama, khususnya bagi Poktan Matuari yang fokus pada budi daya cabai rawit.
Perluasan akses keuangan juga terus digalakkan melalui pelatihan Sistem Aplikasi Pencatatan Keuangan (SIAPIK). Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan formal bagi petani. Dengan demikian, petani memiliki akses lebih baik ke sumber-sumber pendanaan.
Sumber: AntaraNews