BI Sebut Ekonomi Solo Raya Solid, Pembayaran Digital Menguat
BI Solo menyebut ekonomi Solo Raya tetap solid dengan pertumbuhan 5,39 persen, inflasi terkendali, dan transaksi QRIS meningkat tajam.
Bank Indonesia Solo memastikan perekonomian Solo Raya masih menunjukkan kinerja positif di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan internasional.
Kepala Perwakilan BI Solo, Dwiyanto Cahyo Sumirat, mengatakan pertumbuhan ekonomi Solo Raya pada 2025 mencapai 5,39 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen dan Jawa Tengah sebesar 5,37 persen.
“Pada tahun 2025, ekonomi Solo Raya tumbuh 5,39% (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 sebesar 5,24% (yoy). Capaian tersebut juga berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11% (yoy) dan Jawa Tengah sebesar 5,37% (yoy),” kata Dwiyanto dalam acara Wedangan Media di Solo, Kamis (21/5).
Menurut dia, pertumbuhan tersebut ditopang sektor perdagangan, industri pengolahan, pertanian, transportasi, dan jasa lainnya yang masih bergerak positif.
BI Perkuat Stabilitas Rupiah
Dwiyanto menjelaskan Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang memengaruhi pasar keuangan dan pergerakan mata uang.
BI, kata dia, menjalankan sejumlah strategi mulai dari intervensi pasar valas, penguatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pembelian Surat Berharga Negara (SBN), hingga pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying.
“Termasuk melalui spot, DNDF, dan offshore NDF; optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk memperkuat aliran masuk modal asing,” ujarnya.
Selain itu, BI juga akan menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari USD50 ribu menjadi USD25 ribu per orang per bulan.
Di sisi lain, pelaku usaha ekspor di Solo Raya dinilai masih mampu beradaptasi terhadap dinamika global. Berdasarkan survei BI, sekitar 40 persen responden menyebut konflik Timur Tengah belum berdampak signifikan terhadap permintaan ekspor.
Pertumbuhan Penggunaan QRIS
Dari sisi inflasi, BI mencatat kondisi harga di Solo Raya masih terkendali dalam rentang sasaran nasional 2,5±1 persen.
Pada April 2026, Kota Surakarta mengalami deflasi 0,10 persen secara bulanan dengan inflasi tahunan 2,27 persen. Sementara Kabupaten Wonogiri mencatat deflasi 0,25 persen dengan inflasi tahunan 2,16 persen.
Dwiyanto menyebut stabilitas harga ditopang pasokan pangan yang memadai, terutama untuk komoditas beras dan telur ayam ras.
Selain itu, optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi juga masih terjaga. Hal tersebut terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen Kota Surakarta pada Mei 2026 yang berada di level 114,17.
BI Solo juga mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi digital melalui QRIS. Hingga 2026, nilai transaksi QRIS di Solo Raya mencapai Rp5,3 triliun atau tumbuh 114,3 persen secara tahunan.
“Jumlah merchant QRIS bertambah 53.281 merchant, sehingga total merchant QRIS di Solo Raya mencapai 1.109.871 merchant atau tumbuh 18,1% (yoy),” ujar Dwiyanto.
Menurut dia, penggunaan QRIS membantu pelaku usaha kuliner mempercepat transaksi sekaligus memudahkan pencatatan penjualan dan pembukuan usaha secara digital.