OJK Sebut Penurunan Tarif Impor oleh Trump Tingkatkan Optimisme Sektor Perbankan di Indonesia

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengamati bahwa kondisi semakin membaik pada semester kedua tahun 2025 setelah AS menurunkan tarif impor.

Tira Santia
Oleh Tira Santia - Reporter
OJK Sebut Penurunan Tarif Impor oleh Trump Tingkatkan Optimisme Sektor Perbankan di Indonesia
Ilustrasi Peti Kemas, Perdagangan, Ekonomi, Internasional, Ekspor, Impor. Photo by Taro Ohtani on Unsplash (© 2025 Liputan6.com)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa sektor perbankan di Indonesia diperkirakan akan tetap stabil, sejalan dengan meredanya ketegangan geopolitik di tingkat global dan penurunan tarif impor yang diterapkan oleh Amerika Serikat. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa perkembangan ini memberikan peluang bagi pertumbuhan ekonomi, baik secara global maupun domestik, yang pada gilirannya akan mendukung optimisme sektor perbankan dalam menjalankan fungsi intermediasinya.

"Sektor perbankan Indonesia menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika perekonomian dan politik global," ungkap Dian dalam keterangan OJK pada hari Minggu (24/8/2025). Ia juga menyatakan bahwa pada semester pertama tahun 2025, ketidakpastian di tingkat global cukup menekan, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti perang dagang dan konflik yang terjadi di Timur Tengah.

"OJK juga menilai bahwa pada semester I-2025, perekonomian global menghadapi ketidakpastian akibat perang dagang dan ketegangan geopolitik, termasuk penerapan tarif impor oleh Amerika Serikat serta konflik di Timur Tengah," tuturnya. Meski demikian, memasuki paruh kedua tahun ini, kondisi mulai menunjukkan perbaikan setelah Amerika Serikat dan beberapa negara mitra dagangnya sepakat untuk menurunkan tarif impor. Untuk Indonesia, tarif impor kini berkurang menjadi 19 persen, yang membuka peluang lebih besar bagi ekspor.

Kondisi ketegangan mulai berkurang

Tarif Impor Trump Turun Perkuat Optimisme Perbankan Indonesia
Ilustrasi Peti Kemas, Perdagangan, Ekonomi, Internasional, Ekspor, Impor. Photo by Taro Ohtani on Unsplash © 2025 Liputan6.com

Prospek Ekonomi Global dan Domestik Membaik

Di paruh kedua tahun 2025, ketegangan di pasar mulai berkurang setelah Amerika Serikat dan beberapa negara mitra mencapai kesepakatan untuk menurunkan tarif impor, termasuk penurunan menjadi 19 persen untuk Indonesia. Selain itu, kondisi geopolitik yang membaik turut berkontribusi pada situasi ini," ujarnya. Meningkatnya keadaan perdagangan global mendorong International Monetary Fund (IMF) untuk memperbarui estimasi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3 persen pada tahun 2025 dan 3,1 persen pada tahun 2026, meningkat dari estimasi sebelumnya yang hanya 2,8 persen dan 3 persen.

"Sejalan dengan itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi domestik juga direvisi meningkat menjadi 4,8 persen pada 2025--2026 dari sebelumnya 4,7 persen," ujarnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa perbaikan dalam prospek ekonomi ini akan memberikan peluang yang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan kredit, terutama di sektor produktif yang berbasis ekspor seperti pertambangan dan perkebunan. Hal ini terlihat dari pertumbuhan kredit investasi yang telah meningkat signifikan sebesar 12,42 persen secara tahunan pada Juli 2025.

Kestabilan perbankan tetap terjaga

Tarif Impor Trump Turun Perkuat Optimisme Perbankan Indonesia
Ilustrasi Peti Kemas, Perdagangan, Ekonomi, Internasional, Ekspor, Impor. Photo by Taro Ohtani on Unsplash © 2025 Liputan6.com

Meskipun ketidakpastian di tingkat global sempat memberikan tekanan pada awal tahun, sektor perbankan Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang signifikan. Pada bulan Juli 2025, pertumbuhan kredit perbankan tercatat sebesar 7,03 persen dibandingkan tahun lalu, dengan kualitas aset yang tetap terjaga dengan baik. Tingkat Non Performing Loan (NPL) berada pada angka 2,28 persen, sementara Loan at Risk (LaR) mengalami penurunan menjadi 9,68 persen. Selain itu, likuiditas di sektor perbankan juga terlihat stabil, dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 7 persen secara tahunan. Rasio AL/NCD dan AL/DPK masing-masing tercatat sebesar 119,43 persen dan 27,08 persen, yang jauh melebihi batas minimum yang ditetapkan.

"Kondisi likuiditas yang membaik juga menunjukkan bahwa kinerja perbankan tetap kuat dengan ditopang implementasi tata kelola yang baik serta mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan fungsi intermediasi yang diproyeksikan dapat tetap mencatatkan pertumbuhan didukung dengan beragam sentimen positif," pungkasnya. Hal ini mencerminkan optimisme bahwa sektor perbankan akan mampu menghadapi tantangan yang ada dan terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi. Dengan langkah-langkah yang tepat dan strategi yang efektif, perbankan Indonesia diharapkan dapat mempertahankan kinerjanya yang positif di masa mendatang.

Pengurangan suku bunga

Resmi Berdiri, Bank Syariah Nasional Luncurkan Nama dan Logo Baru
Direktur Utama BSN, Alex Sofjan Noor. Setelah mengantongi izin operasional dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PT Bank Syariah Nasional (BSN) resmi meluncurkan identitas baru sebagai bank syar © 2025 Liputan6.com

Seiring dengan penurunan suku bunga acuan (BI Rate), terlihat bahwa suku bunga kredit perbankan juga mengalami penurunan. Pada bulan Juli 2025, rata-rata tertimbang suku bunga kredit rupiah mengalami penurunan sebesar 7 bps jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terutama pada sektor kredit produktif. "Umumnya, penurunan BI Rate akan diikuti penurunan bunga kredit dengan jeda waktu tertentu, sehingga diperkirakan tren penurunan masih berlanjut sepanjang 2025," ujarnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa masih ada kemungkinan untuk menurunkan suku bunga kredit lebih lanjut, sejalan dengan ekspektasi penurunan suku bunga global pada paruh kedua tahun 2025 dan penurunan BI Rate yang mencapai 5 persen per 20 Agustus 2025.

Rekomendasi