Ekonom Sebut Rupiah Sulit Turun di Bawah Rp17.000 per USD Meski BI Sudah Naikkan Suku Bunga Acuan
Menurut Josua, secara teoritis rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk berada di level yang lebih kuat, bahkan di bawah Rp17.000 per dolar AS.
Ketidakpastian global dan domestik masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah. Kondisi ini membuat ekonom memprediksi mata uang rupiah belum akan mampu menguat jauh dari level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menilai, rupiah diperkirakan tetap bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS. Meski demikian, ia berharap nilai tukar masih dapat terjaga di bawah Rp17.500 per dolar AS agar tidak memicu ekspektasi negatif di pasar.
"Kalau melihat kondisi seperti saat ini, kami melihat bahwa rupiah masih di level Rp17.000-an, hopefully masih di bawah Rp17.500 per dolar AS. Harapannya kembali lagi ini tidak sampai ekspektasi liar itu terjadi," kata Josua dalam Media Briefing Bank Indonesia di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (23/5).
Menurut Josua, secara teoritis rupiah sebenarnya memiliki peluang untuk berada di level yang lebih kuat, bahkan di bawah Rp17.000 per dolar AS. Namun, berbagai faktor risiko global, kondisi ekonomi terkini, hingga respons kebijakan dari Bank Indonesia membuat proyeksi tersebut belum mudah tercapai.
Ia menjelaskan bahwa para ekonom dan analis tidak hanya melihat nilai tukar berdasarkan teori semata, tetapi juga mempertimbangkan tekanan eksternal serta dinamika pasar yang dapat memengaruhi stabilitas rupiah.
"Kalau kita melihat secara teori, tadi nilai tukar rill efektifnya (real effective exchange rate) rupiah dalam kondisi normal itu mestinya kita di bawah Rp17.000 per dolar AS. Tapi kan kita sebagai ekonom, sebagai analis, kan kita mempertimbangkan ya risiko-risiko global, risiko-risiko yang ada saat ini, dan juga respon kebijakan yang sudah dikeluarkan oleh Bank Indonesia," jelasnya.
Bijak Komentari Pelemahan Rupiah
Dalam kesempatan itu, Josua juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyampaikan komentar terkait pelemahan rupiah, khususnya di media sosial. Ia menilai pernyataan yang tidak didasari pemahaman memadai dapat memicu kesalahpahaman dan mendorong masyarakat ikut panik atau FOMO.
Selain itu, ia menegaskan bahwa kebijakan moneter Bank Indonesia tidak dapat bekerja sendirian. Menurutnya, diperlukan koordinasi dan sinergi dengan kebijakan pemerintah serta otoritas sektor keuangan agar kepercayaan investor tetap terjaga.
"Kebijakan BI ini tidak bisa berdiri sendiri ya, ini perlu harus ditopang juga oleh kebijakan-kebijakan lainnya, makanya harus ada koordinasi kebijakan, sinergi kebijakan. Sebenarnya sinergi kebijakan ini kata kunci yang sangat direspon positif oleh rating agency dan juga investor asing sebelum-sebelumnya. Dan ini harusnya diperkuat lagi saat ini oleh pemerintah dan juga otoritas di sektor keuangan," ujarnya.
Apresiasi Bank Indonesia
Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga ekspektasi pasar dan menekan premi risiko Indonesia.
Ia bahkan menilai pasar kemungkinan akan bereaksi lebih negatif apabila BI tidak mengambil langkah kenaikan suku bunga tersebut. Menurutnya, investor menunggu respons kebijakan yang mampu meningkatkan optimisme terhadap kondisi ekonomi ke depan.
"Saya tidak bisa membayangkan kalau kemarin BI tidak menaikkan suku bunga. Hal yang ditunggu oleh pasar dan juga khususnya oleh investor adalah respons kebijakan yang bisa memperbaiki ekspektasi dan juga dari sisi risk premiumnya Indonesia, khususnya bagaimana supaya ekspektasi investor ini bisa membaik ke depannya, terutama dari sisi kebijakan-kebijakan," pungkasnya.