Sri Mulyani Prediksi Dolar AS Makin Perkasa Dampak Kebijakan Donald Trump
Penguatan nilai tukar Dolar AS salah satunya dipicu oleh kebijakan tarif impor yang gencar dilakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati memprediksi pergerakan mata uang Dolar Amerika Serikat (USD) kian menguat di sepanjang tahun 2025. Imbas dari penguatan dolar AS ini membuat mata uang dunia lainnya berpotensi mengalami tren pelemahan.
"Indeks mata uang dolar AS atau Amerika Serikat US Dolar berada dalam tren yang meningkat dan ini akan memberikan tambahan tekanan perlemahan pada mata uang dunia lainnya," kata Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Kementerian Keuangan, Jakarta.
Bendahara Negara ini menjelaskan bahwa penguatan nilai tukar Dolar AS salah satunya dipicu oleh kebijakan tarif impor yang gencar dilakukan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Penerapan tarif impor perdagangan tersebut diyakini akan mempengaruhi sikap The Fed dalam menelurkan arah kebijakan suku bunga yang berpotensi menimbulkan gejolak di pasar keuangan dunia.
"ini tentu mempengaruhi posisi dari Fed Fund Rate kebijakan dari suku bunga Federal Reserve yang dalam hal ini ekspektasi untuk terjadinya penurunan menjadi lebih terbatas, akibat tadi inflasinya masih tertahan akibat kebijakan tarif yang dilakukan," tegasnya.
Dari sisi fiskal Amerika Serikat juga akan lebih ekspansif dan ini mendorong yield dari US Treasury (imbal hasil) tetap tinggi. Baik pada tenor jangka pendek maupun jangka panjang.
"Tekanan politik global yang meningkat dan preferensi investor yang makin besar terhadap aset-aset keuangan Amerika Serikat akan menyebabkan indeks mata uang dolar AS berada dalam tren yang meningkat," tandasnya.
Trump Ancam Kenakan Tarif Impor 100 Persen ke Negara Anggota BRICS
Sebelumnya, presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, melontarkan ancaman keras terhadap blok ekonomi BRICS yang tengah mempertimbangkan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Trump menyatakan ia akan mengenakan tarif sebesar 100 persen pada negara-negara dalam blok tersebut jika mereka beralih dari dolar AS.
"Gagasan bahwa Negara-negara BRICS tengah berupaya menjauh dari Dolar sementara kita berdiam diri dan menonton sudah berakhir," kata Trump, dikutip dari BBC, Senin (2/12).
Trump menuntut komitmen dari negara-negara BRICS untuk tidak menciptakan mata uang baru yang berpotensi menggantikan dolar AS.
Di sisi lain, para pemimpin BRICS telah mempertimbangkan penciptaan mata uang bersama untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan global. Namun, rencana tersebut menghadapi tantangan internal, termasuk perbedaan pandangan di antara anggota blok ekonomi ini.