Dolar AS Diprediksi Bakal Mengamuk, Kurs Rupiah Siap-Siap Anjlok
Kebijakan proteksionisme yang diterapkan Trump untuk melindungi AS merugikan banyak negara mitra dagang.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Juli Budi Winantya memproyeksikan mata uang dolar Amerika Serikat atau USD berpotensi menguat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Sebaliknya, nilai tukar Rupiah berpotensi melemah akibat penguatan mata uang USD tersebut.
"Sehingga implikasinya adalah US dolar yang menguat secara merata di hampir seluruh negara," kata Juli dalam acara Pelatihan Media di Kantor Perwakilan BI Banda Aceh, Aceh, Jumat (7/2).
Juli menjelaskan, kebijakan proteksionisme yang diterapkan Trump untuk melindungi AS merugikan banyak negara mitra dagang. Salah satunya kebijakan penerapan tarif impor Trump 2.0.
Melalui kebijakan tersebut, Trump berhasil mendorong penguatan mata uang dolar AS. Akibatnya mata uang dunia, termasuk di negara berkembang seperti Rupiah ikut melemah.
"Jadi (dolar AS) relatif menguat relatif dengan euro, China yuan, japanese yen, sehingga ini terjadi di semua negara. Rupiah juga tertekan," bebernya.
Faktor Pendukung Menguatnya Dolar AS
Selain kebijakan tarif impor, penguatan ekonomi AS ini ditopang beberapa faktor pendukung. Dari sisi permintaan, penguatan dipicu dari level kelas masyarakat menengah bawah akibat bantuan stimulus fiskal dari pemerintah yang meningkatkan konsumsi masyarakat kelas itu.
Tak hanya kelas menengah, kelompok kelas masyarakat atas juga ada ikut terbantu dari penguatan harga saham hingga properti atau yang disebut wealth effect. Dengan kombinasi ini, ekonomi AS berhasil terus mencatatkan kinerja positif.
"Itu membuat ekonomi AS masih tumbuh kuat sehingga kita perkirakan pertumbuhan ekonomi AS kan kita revisi ke atas dari beberapa faktor. Di sisi lain Eropa ekonominya lemah, ada masalah fiskal konsolidasi di Prancis dan Jerman, dan di China masih ada permasalahan di sektor properti," bebernya.
Peluang Indonesia
Akan tetapi, Indonesia tetap mempunyai peluang untuk meraup keuntungan dari kebijakan tarif impor AS. Antara lain dengan meningkatkan volume ekspor untuk mengisi pasar yang ditinggalkan China.
"Opportunity-nya bisa kita ambil dari peluang ekspor yang bisa kita ambil dari bangsa ekspor yang ditinggalkan China," ucap dia.
Dari sisi investasi, Indonesia juga berpotensi mendapatkan limpahan investasi dari China maupun negara lainnya yang terdampak kebijakan tarif impor Trump. Fenomena ini sebagaimana terjadi saat Donald Trump menjabat presiden AS untuk pertama kalinya.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat di Jakarta menguat hingga 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp16.334 per USD. Sebelumnya, rupiah dipatok Rp16.341 per USD.
Pengamat pasar uang Ariston Tjendra menyatakan nilai tukar atau kurs Rupiah masih rentan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) untuk saat ini.
"Kebijakan kenaikan Tarif Trump dikhawatirkan akan memicu kenaikan inflasi di AS, sehingga The Fed (Federal Reserve) akan membatasi pemangkasan suku bunga acuannya,” ujarnya dikutip dari Antara, Jumat (7/2).
Kebijakan kontroversial lain Trump ialah terkait rencana mengambil alih Jalur Gaza dan Terusan Panama hingga menutup United States Agency for International Development (USAID) dianggap bakal memicu konflik ekonomi AS dengan negara lainnya.