Rupiah Melemah, PIER Proyeksi BI Bakal Naikkan Suku Bunga
PIER memproyeksikan BI-Rate berpotensi naik menjadi 5 persen pada semester I 2026 dipicu tekanan rupiah dan kondisi global.
Permata Institute for Economic Research (PIER) memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI-Rate masih terbuka pada semester pertama 2026.
Lembaga riset milik Permata Bank itu memproyeksikan BI-Rate berpotensi naik sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen.
Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank, Faisal Rachman mengatakan proyeksi tersebut muncul setelah pihaknya merevisi pandangan terhadap arah kebijakan moneter tahun ini.
"Kita telah melakukan revisi bahwa di tahun 2026 ini kemungkinan ruang kenaikan BI-Rate itu ada. Jadi, kita proyeksi kemungkinan akan ada kenaikan 25 (basis) poin di semester pertama,” kata Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review Kuartal I-2026.
Saat ini, BI masih mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen sejak awal tahun 2026.
Keputusan tersebut terakhir ditegaskan dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21-22 April 2026.
Pelemahan Rupiah Jadi Sorotan
Faisal menilai peluang kenaikan BI-Rate tidak terlepas dari tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Hingga pertengahan Mei 2026, rupiah tercatat telah melemah lebih dari 4 persen terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan perdagangan Selasa sore (12/5/2026), kurs rupiah berada di level Rp17.529 per dolar AS atau melemah 115 poin dibanding sebelumnya.
Menurut Faisal, secara historis Bank Indonesia mulai mempertimbangkan pengetatan suku bunga ketika depresiasi rupiah telah melewati 3 persen.
“Apalagi, kalau kita lihat SRBI itu rate-nya sudah cukup meningkat terus ke atas. Jadi, ini kita perlu antisipasi,” ujarnya.
Bank Indonesia dijadwalkan kembali menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 19-20 Mei 2026.
Inflasi dan Kebijakan The Fed Jadi Faktor Penentu
PIER menilai terdapat tiga faktor utama yang akan memengaruhi arah suku bunga Bank Indonesia ke depan.
Ketiga faktor tersebut meliputi potensi kenaikan inflasi domestik, risiko pelebaran defisit transaksi berjalan, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
Faisal mengatakan pasar global masih melihat peluang suku bunga AS bertahan tinggi hingga akhir tahun ini.
“Kalau dari sisi globalnya, yang terletak di sisi advance rate, sebenarnya market masih akan cenderung melihat efek itu tidak akan mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun ini, dan baru membuka kemungkinan pemotongan itu di akhir tahun depan,” pungkasnya.