Rupiah Dekati Rp17.000, Analis Prediksi BI Tak Ubah BI-Rate
Analis memperkirakan BI menahan suku bunga acuan 4,75% demi menjaga stabilitas rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan seluruh suku bunga kebijakannya pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026.
Menurut Ibrahim, BI diproyeksikan tetap menjaga suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen, serta Lending Facility di posisi 5,50 persen, sama seperti kebijakan pada Desember 2025.
“Guna untuk menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu 21 Januari 2026,” kata Ibrahim, Selasa (20/1).
Tekanan Rupiah Jadi Pertimbangan Utama
Ibrahim menjelaskan, keputusan mempertahankan suku bunga dinilai penting untuk menahan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, Senin (19/1), rupiah tercatat melemah ke posisi Rp16.955 per dolar AS.
“Pada perdagangan sore (19/1), mata uang rupiah ditutup melemah 68 poin, sebelumnya sempat melemah 75 poin di level Rp16.955 dari penutupan sebelumnya di Rp16.896,” ujarnya.
Selain kebijakan suku bunga, Bank Indonesia disebut telah mengoptimalkan sejumlah instrumen stabilisasi, mulai dari penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Proyeksi Rupiah dan Faktor Fiskal
Untuk perdagangan Selasa (20/1/2026), Ibrahim memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp16.950 hingga Rp16.980 per dolar AS.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.950–Rp16.980,” ujarnya.
Ia juga menyoroti faktor domestik lain yang menekan rupiah, yakni kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia. Defisit anggaran tahun lalu disebut mendekati ambang batas 3 persen, sementara penerimaan negara masih dinilai belum optimal.
Menurut Ibrahim, meskipun Bank Indonesia aktif melakukan intervensi di pasar DNDF maupun NDF, ruang kebijakan yang terbatas serta toleransi terhadap pelemahan rupiah secara moderat dapat membatasi efektivitas langkah tersebut.