IHSG Berpotensi Variatif Hari Ini di Tengah Sentimen Domestik dan Global yang Kuat
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi bergerak variatif hari ini, dipengaruhi oleh sentimen domestik dan global yang menarik perhatian investor.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi bergerak variatif pada Jumat (20/2) ini. Pergerakan ini terjadi di tengah kuatnya sentimen dari pasar domestik maupun global yang mempengaruhi keputusan investor.
Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, memperkirakan IHSG akan bervariasi dalam rentang 8.220 hingga 8.380. Pembukaan perdagangan menunjukkan IHSG menguat 0,32 persen ke posisi 8.300,22.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang naik 0,33 persen menjadi 837,04. Investor saat ini mencermati berbagai faktor yang dapat memicu fluktuasi pasar sepanjang hari ini.
Keputusan BI dan Stabilitas Rupiah
Dari dalam negeri, sentimen utama datang dari keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan BI-Rate. Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026 memutuskan BI-Rate tetap di level 4,75 persen.
Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan sebesar 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,50 persen. Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
BI menjelaskan bahwa keputusan mempertahankan BI-Rate bertujuan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global. Langkah ini penting untuk meredam fluktuasi mata uang.
Kebijakan tersebut juga mendukung pencapaian sasaran inflasi untuk periode 2026-2027. Selain itu, BI berharap dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
Sentimen Global dan Pergerakan Pasar Internasional
Sentimen global juga turut mewarnai pergerakan IHSG, dengan pelaku pasar menantikan rilis data penting dari Amerika Serikat (AS). Data inflasi Price Consumer Expenditure (PCE) dan Produk Domestik Bruto (PDB) AS akan dirilis akhir pekan ini.
Berdasarkan risalah FOMC The Fed pekan ini, beberapa pejabat mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Hal ini dilakukan untuk menahan laju inflasi AS yang masih berada di atas target yang ditetapkan.
Di sisi geopolitik, pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai Iran menjadi perhatian utama. Trump mengatakan bahwa AS harus membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran, yang dianggap sebagai "hot spot" saat ini.
Trump juga menyatakan bahwa dalam 10-15 hari ke depan akan sangat menentukan apakah AS akan mencapai kesepakatan dengan Iran terkait program nuklir mereka atau tidak. Perkembangan geopolitik ini dapat mempengaruhi sentimen pasar global secara signifikan.
Kinerja Bursa Saham Regional dan Internasional
Perdagangan Kamis (19/02) menunjukkan bursa saham Eropa kompak melemah, mencerminkan kekhawatiran pasar. Indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,80 persen, sedangkan FTSE 100 Inggris turun 0,55 persen.
Indeks DAX Jerman juga terkoreksi 0,93 persen, dan indeks CAC melemah 0,36 persen pada penutupan perdagangan. Pelemahan ini menunjukkan tekanan jual yang cukup dominan di pasar Eropa.
Situasi serupa terjadi di Wall Street, di mana bursa saham AS juga kompak melemah pada Kamis (19/02). Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,54 persen, S&P 500 melemah 0,28 persen, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,31 persen.
Sementara itu, bursa saham regional Asia pagi ini menunjukkan pergerakan bervariasi. Indeks Nikkei melemah 1,29 persen dan Hang Seng melemah 0,83 persen, namun indeks Strait Times justru menguat 0,09 persen.
Perlu dicatat bahwa indeks Shanghai (China) masih libur memperingati Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Hal ini mengurangi volume perdagangan di kawasan Asia dan dapat mempengaruhi sentimen secara keseluruhan.
Sumber: AntaraNews