IHSG Melonjak Usai Libur Lebaran, Analis Nilai Sentimen Rupiah dan Dana Asing Masih Membayangi
Di tengah penguatan IHSG, nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih belum sepenuhnya hilang.
Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 2,75% pada perdagangan hari perdana pasca libur lebaran yakni 25 Maret 2026 menunjukkan bahwa pasar domestik mulai merespons kombinasi sentimen global dan domestik yang relatif kondusif.
"Penguatan IHSG sebesar 2,75% ke level 7.302 menunjukkan bahwa pasar domestik mulai merespons kombinasi sentimen global dan domestik yang relatif kondusif," kata Hendra kepada Liputan6.com, Kamis (26/3).
Sementara itu, bursa Asia yang mayoritas menguat menjadi katalis positif, ditambah dengan masih masuknya dana asing meskipun dalam jumlah yang belum terlalu besar.
Dari sisi domestik, wacana pemangkasan anggaran MBG menjadi sentimen positif bagi pasar, karena memberikan sinyal bahwa pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal sehingga kekhawatiran terhadap pelebaran defisit APBN bisa sedikit mereda.
"Bagi investor, stabilitas fiskal sangat penting karena akan menjaga stabilitas rupiah, imbal hasil obligasi, serta menjaga rating kredit Indonesia tetap stabil, sehingga pada akhirnya mendukung iklim investasi di pasar saham," ujar dia.
Sentimen Pengaruhi IHSG
Namun demikian, di tengah penguatan IHSG, nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp16.900 per dolar AS menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih belum sepenuhnya hilang.
Kenaikan harga emas dan penurunan harga minyak dunia juga mencerminkan bahwa pasar global masih berada dalam fase risk on yang belum sepenuhnya kuat, sehingga aliran dana asing ke emerging market seperti Indonesia masih cenderung selektif.
"Oleh karena itu, pergerakan IHSG dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan dana asing dan nilai tukar rupiah," pungkasnya.