IHSG Kembali Hijau, Analis: Banyak Digerakkan Investor Domestik, Pasar Masih Fase Pemulihan
Kenaikan ini tidak bersifat semu, karena didukung oleh penguatan yang merata di seluruh sektor, dengan sektor konsumer primer tampil sebagai pemimpin reli.
Analis Pasar Modal, Hendra Wardana menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (10/2) menjadi sinyal penting bahwa pasar domestik mulai kembali menemukan ritme positifnya, meskipun di tengah berbagai isu struktural yang masih membayangi.
"Indeks ditutup menguat 1,24 persen ke level 8.131 dan bertahan di zona hijau sepanjang sesi, mencerminkan adanya minat beli yang relatif konsisten sejak awal perdagangan," kata Hendra kepada Liputan6.com, Rabu (11/2).
Menurutnya, kenaikan ini tidak bersifat semu, karena didukung oleh penguatan yang merata di seluruh sektor, dengan sektor konsumer primer tampil sebagai pemimpin reli.
Namun demikian, penguatan IHSG hari ini belum sepenuhnya mencerminkan kembalinya kepercayaan investor asing. Data menunjukkan bahwa investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp917 miliar.
"Artinya, reli indeks lebih banyak digerakkan oleh investor domestik dan rotasi portofolio jangka pendek, bukan oleh arus dana asing yang masuk secara struktural. Kondisi ini menandakan bahwa pasar masih berada dalam fase pemulihan kepercayaan, belum pada fase euforia," ujarnya.
Dari sisi eksternal, sentimen global memberikan dorongan yang cukup kuat. Bursa Asia bergerak kompak menguat, dipimpin oleh Jepang setelah kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dipersepsikan pasar sebagai jaminan stabilitas politik dan kesinambungan kebijakan ekonomi.
"Reli di Nikkei dan Topix yang berlanjut ke level tertinggi baru turut memperkuat risk appetite investor kawasan," ujarnya.
Selain itu, pelemahan indeks dolar AS ke dekat level terendah bulanan memberi ruang bagi aset berisiko di emerging market, termasuk Indonesia, untuk kembali dilirik, meskipun pergerakan mata uang regional masih cenderung mixed.
Pengaruh Domestik
Di dalam negeri, kata Hendra, penguatan IHSG juga mencerminkan rotasi sektor yang sehat. Investor terlihat kembali masuk ke saham-saham berbasis konsumsi domestik seperti ASII, ERAA, AMRT, hingga UNTR, yang dinilai memiliki daya tahan kinerja lebih baik di tengah ketidakpastian global.
"Karakter konsumsi domestik yang relatif stabil membuat sektor ini kembali menjadi pilihan defensif sekaligus ofensif bagi pelaku pasar, terutama investor domestik," ujarnya.
Menariknya, pasar saham Indonesia relatif tenang dalam merespons keputusan FTSE Russell yang menunda review indeks Indonesia pada Maret 2026. Penundaan tersebut dipahami sebagai persoalan teknis, bukan cerminan penurunan kualitas fundamental pasar modal Indonesia.
Dampak Kebijakan FSE Russell
Hendra menjelaskan, FTSE menilai masih terdapat ketidakpastian dalam proses reformasi pasar, khususnya terkait kebijakan free float minimum dan potensi gangguan mekanisme pasar selama masa transisi. Oleh karena itu, FTSE memilih menahan seluruh perubahan indeks hingga terdapat kepastian regulasi yang lebih solid.
"Dampak dari kebijakan ini adalah struktur indeks FTSE Indonesia menjadi statis dalam jangka pendek. Tidak ada penambahan atau penghapusan saham, tidak ada perubahan bobot akibat free float, serta tidak ada penyesuaian akibat aksi korporasi diskresioner seperti rights issue," ujarnya.
Bagi investor institusi global, kondisi ini justru memberikan kepastian sementara, karena mengurangi risiko rebalancing mendadak. Inilah yang menjelaskan mengapa pasar tidak bereaksi negatif secara agresif terhadap keputusan FTSE tersebut.