Strategi Pengusaha Bali Genjot Usaha di Tengah Pelemahan Rupiah
Sejumlah perusahaan buka suara mengenai kenaikan dolar Amerika Serikat (AS) membuat rupiah hari ini melemah dan juga terkait investasi ke depan untuk bisnis.
Sejumlah perusahaan buka suara mengenai kenaikan dolar Amerika Serikat (AS) yang membuat rupiah hari ini melemah dan juga terkait investasi ke depan untuk bisnis usaha di Pulau Bali.
Hal tersebut dikatakan dalam acara US-ASEAN Business Council Executive Briefing 2026 dengan tajuk 'Impact of Inovation on Bali's Economic Development A Showcase of US Companies Initiative' di Kuta, Kabupaten Badung, Kamis (4/6).
Saraswati Subadia selaku General Manager The Westin Resort & Spa Ubud, Marriott International mengatakan industri hotel justru tidak terlalu terdampak kenaikan dolar.
"Dampak dolar itu buat kami di hospitality Industry di hotel itu justru membaik sebetulnya. Jadi bisnis yang saat ini terjadi sudah kembali, belum 100 persen normal, tapi sudah naik di angka 10 persen," kata Saraswati.
"Dan sebentar lagi kita akan memasuki high season period. Yang mana compare to last year (dibandingkan tahun lalu) itu angkanya juga secara forecast (peramalan) itu sudah hampir sama dengan tahun lalu," ujar dia.
Kemudian untuk tingkat hunian atau okupansi hotel di Hotel Marriott Internasional di Bali masih stabil.
"Jadi, itu membuktikan bahwa tingkat hunian kamar hotel di Marriot Internasional masih tetap stabil. Walaupun tidak sesuai dengan harapan, tapi masih baik," jelas dia.
Terkait dampak kenaikan dolar juga tidak terlalu signifikan kepada bahan baku dipasok ke hotel. Karena, grub hotel Marriot secara konsisten menggunakan produk lokal Bali, seperti sayur, buah, beras, dan komoditas lainnya.
"Saat ini kerja sama kami, khususnya untuk bagian bahan baku operasional dengan By for Bali itu sangat membantu sekali. Jadi itu tidak terlalu impacting dengan operasional hotel," ujar dia.
"Yang mungkin banyak kita harus perhatikan adalah dari sisi energi. Itu yang memang saat ini kita harus lebih memperhatikan pasokannya dari mana. Tapi saat ini masih berjalan dengan baik," lanjut dia.
Kemudian dari sisi kompetitif usaha hotel di Bali tentunya Pulau Bali itu masih sangat seksi untuk menjadi destinasi kompetisi, khususnya di bidang pariwisata.
"Pulau Bali masih sangat seksi untuk menjadi destinasi kompetisi, khususnya di bidang pariwisata," ujar dia.
Sementara, Gabrielle Angriani, Director of Government Affairs, Corporate Communications, and Sustainability, PepsiCo Indonesia mengatakan, untuk PepsiCo tidak ada direct investment di Bali.
"Dan ini pertanyaannya juga konteksnya untuk Bali, memang tidak ada dampak yang di Bali. Kami akan terus menjalankan upaya terkait dengan sustainability terlepas dari kondisi geopolitik," jelas dia.
Sementara, Suandi Tanuwijanto selaku APAC Agriculture Policy Program Manager, Corteva Agriscience mengatakan, terkait pertanian secara makro di Indonesia dan berkaca saat Pandemi Covid-19 lalu memang ada sebuah perlambatan di dalam adopsi teknologi.
"Tapi itu tidak menutup peluang untuk tetap berjalan. Bahkan justru kemarin pada saat pandemi, salah satu sektor yang tetap terus berjalan itu pertanian. Karena kita tetap butuh makanan," ujar dia.
Namun menurutnya, untuk saat ini dengan situasi global tidak hanya petani di Indonesia yang merasakan dampaknya tetapi petani secara global juga merasakan dampaknya.
"Jadi hanya saja mungkin bagi petani di seluruh Indonesia, tidak hanya di Indonesia sebenarnya, secara global juga merasakan dampaknya dengan kenaikan harga ongkos produksinya mereka," kata dia.
"Misalnya harga pupuk naik, kemudian harga benih naik, kemudian harga input pertanian lain juga naik, sederhana. Misalnya, karena pengaruh minyak, harga minyak itu plastik juga harganya naik, itu bagi petani juga cukup dirasakan kenaikannya," ujar dia.
Tentu dengan kondisi tersebut, berimbas kepada konsumen tetapi dalam industri pertanian di bidang teknologi akan menyesuaikan kedepannya.
"Jadi memang ini akan berimbas kepada kita juga, pada akhirnya konsumen. Tetapi kami di industri input pertanian, kita menyesuaikan. Seperti apa pasar, dan kita juga menyesuaikan sejauh mana petani bisa mengadopsi teknologi baru," ujar dia.
"Karena biar bagaimana pun teknologi tetap terus berkembang. Justru dengan mereka adopsi teknologi baru, itu akan sangat membantu mereka dari sisi produktivitas kemudian efisiensi," ujar dia.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah hari ini kembali menjadi sorotan setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah posisi yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah. Berdasarkan data Investing, pada Kamis (4/6) pukul 06.45 WIB, dolar hari ini tercatat berada di level Rp 18.015 per dolar AS.
US-ASEAN Business Council Soroti Peran Inovasi Sektor Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Bali
Sejumlah perusahaan akan berkontribusi dalam memperkuat fondasi pembangunan ekonomi Bali. Hal tersebut dijelaskan melalui acara Executive Briefing,“Impact of Innovation on Bali’s Economic Development: A Showcase of U.S. Companies’ Initiatives”, dalam US-ASEAN Business Council Executive Briefing 2026, di Kuta, Bali, Kamis (4/6).
US-ASEAN Business Council (USABC) menyoroti berbagai inisiatif perusahaan AS yang berkontribusi dalam memperkuat fondasi pembangunan ekonomi Bali. Acara ini juga merupakan kelanjutan dari peluncuran laporan Bisnis AS untuk Indonesia (BISA) 2025, bagian dari Program BISA. Acara ini turut dihadiri sejumlah perusahaan anggota USABC membagikan berbagai inisiatif yang telah mereka jalankan di Bali sebagai bagian dari kontribusi sektor swasta terhadap pembangunan daerah.
Saat ini, Pulau Bali sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia,
Bali memiliki peran strategis dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,8 persen untuk periode 2025-2027. Perekonomian Bali mencapai Rp 81,39 triliun pada kuartal II tahun
2025, meningkat sebesar 6,70 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Kemudian, untuk menjaga momentum tersebut, saat ini berbagai sektor usaha terus mengembangkan kolaborasi berkelanjutan untuk memperkuat berbagai faktor penunjang pertumbuhan, mulai dari kualitas sumber daya manusia, keberlanjutan lingkungan, hingga daya saing sektor-sektor unggulan daerah.
"Di Marriott International, kami percaya bahwa keberhasilan kami harus berjalan seiring dengan kesejahteraan komunitas tempat kami beroperasi. Melalui program Bay for Bali, kami berupaya memperkuat pertumbuhan pariwisata dan ekonomi lokal sekaligus menciptakan manfaat yang nyata bagi masyarakat, dengan membuka lebih banyak peluang bagi para pelaku usaha dan produsen lokal,” kata Saraswati Subadia perwakilan dari Marriott International di Bali.
Sementara, Gabrielle Angriani, Director of Government Affairs, Corporate Communications, and Sustainability, PepsiCo Indonesia, menyampaikan, PepsiCo terus mengupayakan berbagai inisiatif terkait keberlanjutan lingkungan dan pengembangan komunitas masyarakat.
"Baru-baru ini kami juga memberikan dukungan pendanaan dan mentoring bagi startup pengelolaan sampah asal Bali, Bali waste cycle melalui program greenhouse accelerator, karena PepsiCo percaya kolaborasi aktif multipihak sangatlah dibutuhkan dalam menghasilkan solusi efektif untuk mengatasi masalah sistemik dalam pengelolaan sampah kemasan," kata Gabrielle Angriani.
Kemudian di bidang kesehatan dan gizi, herbalife, yang telah hadir sejak tahun 1998 di Indonesia, menjalankan program casa herbalife sejak 2019 untuk mendukung peningkatan kualitas nutrisi anak-anak di Kabupaten Karangasem dan Buleleng, Bali.
“Kami percaya kualitas sumber daya manusia merupakan fondasi penting bagi pembangunan ekonomi jangka panjang. Melalui program senilai USD 233,746, yang telah menjangkau ratusan anak ini, kami berharap dapat membantu menciptakan generasi yang lebih sehat, produktif, dan siap berkontribusi untuk mencapai Indonesia Emas di tahun 2045,” ujar Arif Mustolih, Director of Public Affairs Indonesia, Malaysia, and Singapore, Herbalife.
Selain itu, inovasi lain juga dilakukan oleh Corteva Agriscience, perusahaan AS di bidang teknologi pertanian. Melalui kemitraan dan pengembangan kapasitas petani beras dan sayuran yang ada di Bali, Corteva terus berkomitmen untuk melakukan alih pengetahuan dan teknologi untuk memaksimalkan produktifitas petani.
Sementara itu, perusahaan pembayaran global AS seperti visa menempatkan pengembangan ekonomi Bali sebagai bagian dari strategi utamanya, dengan menyediakan solusi pembayaran terbaik guna meningkatkan kenyamanan wisatawan internasional yang berkunjung.
“Saat ini visa bekerja sama dengan ekosistem pembayaran domestik Indonesia, termasuk dompet digital terkemuka seperti DANA, untuk memperluas akseptasi digital dan memungkinkan wisatawan internasional melakukan transaksi pembayaran melalui QR dengan menggunakan kartu visa mereka sebagai sumber dana," ujar Vira Widiyasari selaku Country Manager Visa Indonesia.
"Dengan menggabungkan jaringan globalnya dengan inovasi pembayaran lokal, visa menghadirkan pengalaman pembayaran yang nyaman bagi wisatawan, memungkinkan pelaku usaha dari berbagai skala untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi global untuk perjalanan dan aktivitas ekonomi,” lanjutnya.
Sementara Nugraheni Utami selaku Chief Country Representative USABC Indonesia berharap, kisah dan praktik baik dari Bali ini dapat menginspirasi lebih banyak inisiatif serupa dan menjalar ke berbagai daerah di Indonesia.
"Kami di USABC akan terus berkomitmen mendukung terjalinnya sinergi yang lebih kuat antara sektor publik dan swasta untuk memperkuat pembangunan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.