Usul Ekonom Usai Rupiah Jeblok Tembus Rp18.000, Pemerintah Wajib Lakukan Hal Ini Jaga Tren Arus Pasar Saham
Optimisme para pelaku pasar untuk berkiprah di pasar domestik perlu dijaga khususnya di pasar saham, agar tren arus modal keluar tidak semakin deres.
Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Ishak Razak, meminta kepada pemerintah agar bisa mengembalikan kepercayaan pasar menyusul nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus rekor terbaru di level Rp18.000.
Menurut dia, optimisme para pelaku pasar untuk berkiprah di pasar domestik jadi hal utama perlu dijaga khususnya di pasar saham, agar tren arus modal keluar (capital outflow) tidak semakin deras.
"Khususnya investor di pasar modal, ya. Karena bagaimanapun juga yang mempengaruhi secara fluktuatif itu kan di pasar modal, dari pasar saham ataupun di SBN (Surat Berharga Negara)," kata Ishak di Jakarta, Kamis (4/6).
Tak hanya itu, Ishak juga mengimbau pemerintah agar lebih berhati-hati dalam mencetuskan suatu kebijakan yang punya potensi mengganggu perdagangan.
Ishak lantas mengambil contoh pengumuman soal ekspor satu pintu melalui BUMN PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Menurut dia, kebijakan sejenis itu rawan mengusik kenyamanan para investor.
"Kayak kemarin ya, kebijakan seperti Danantara ekspor satu pintu. Menurut kami, kebijakan yang semisal ini ke depannya tidak lagi diumumkan. Karena kemudian menambah ketidakpercayaan atau kestabilan pasar," ujar dia.
Genjot Ekspor
Selain itu, Ishak mendorong peningkatan pasokan dolar ke pasar domestik. Salah satunya dengan menggenjot ekspor, termasuk untuk komoditas tambang mineral dan batu bara yang terkena kebijakan hilirisasi.
Dia lantas menyoroti pembatasan produksi nikel dan batu bara seperti tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
"Kalau misalnya peluang untuk peningkatan ekspor dengan melonggarkan, ada relaksasi ekspor, ini harapannya bisa memperbaiki neraca perdagangan kita. Sehingga ke depannya pasokan dolar itu bisa menjadi lebih-lebih kuat kita. Itu untuk yang sektor riil," tutur dia.