Pakar Unej: Kondisi Domestik Indonesia Kuat di Tengah Pelemahan Rupiah
Meskipun Pelemahan Rupiah mendekati Rp17.000 per Dolar AS, pakar ekonomi Unej menegaskan kondisi domestik Indonesia masih kuat dan memiliki bantalan yang kokoh. Apa saja indikatornya?
Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) kembali menunjukkan tren pelemahan, bahkan mendekati level Rp17.000 per Dolar AS. Situasi ini kerap memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pelaku pasar akan stabilitas ekonomi nasional. Namun, pelemahan mata uang ini perlu dibaca secara kontekstual, bukan hanya reaktif terhadap angka.
Adhitya Wardhono, PhD, seorang pakar ekonomi dari Universitas Jember (Unej), menegaskan bahwa kondisi domestik Indonesia masih cukup kuat menghadapi tekanan eksternal ini. Menurutnya, Indonesia memiliki bantalan yang kokoh untuk menjaga stabilitas di tengah fluktuasi nilai tukar. Penilaian ini didasarkan pada beberapa indikator ekonomi makro yang menunjukkan ketahanan.
Fokus utama kebijakan saat ini, lanjut Adhitya, bukanlah mengejar angka nilai tukar tertentu, melainkan menjaga stabilitas agar pelemahan tidak berubah menjadi volatilitas yang merusak. Volatilitas kurs yang bergejolak jauh lebih berbahaya bagi inflasi, investasi, dan dunia usaha dibandingkan dengan pelemahan yang terukur. Pemahaman ini penting untuk merumuskan respons kebijakan yang tepat dan efektif.
Kekuatan Fundamental Ekonomi Domestik
Indonesia menunjukkan kekuatan fundamental ekonomi yang signifikan di tengah tekanan global yang menyebabkan Pelemahan Rupiah. Salah satu indikator utama adalah cadangan devisa yang kuat, mencapai 156,5 miliar Dolar AS pada akhir Desember 2025. Jumlah ini setara dengan sekitar 6,4 bulan impor, memberikan ruang yang penting untuk menjaga stabilitas pasar valuta asing dan kepercayaan investor.
Selain itu, stabilitas harga domestik masih relatif terjaga dengan inflasi tahunan Desember 2025 sebesar 2,92 persen (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa meskipun ada pelemahan kurs, dampak terhadap inflasi masih terkendali. Namun, pelemahan kurs tetap perlu diantisipasi melalui ekspektasi inflasi dan harga barang impor, yang dapat terpengaruh oleh pergerakan nilai tukar.
Dari sisi eksternal, Indonesia terus mencatat surplus perdagangan yang berlanjut sangat panjang, selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus perdagangan Januari–November 2025 terutama ditopang oleh surplus nonmigas sebesar 56,15 miliar Dolar AS, meskipun sektor migas mengalami defisit 17,61 miliar Dolar AS. Hal ini menguatkan narasi bahwa tekanan pada rupiah lebih dominan berasal dari sentimen dan siklus global, bukan karena habisnya devisa struktural.
Peran Pemerintah dan Stabilitas Fiskal
Dalam menghadapi Pelemahan Rupiah, peran pemerintah sangat krusial dan tidak hanya sebatas memberikan pernyataan optimistis. Adhitya Wardhono menekankan bahwa pemerintah perlu memperkuat kredibilitas fiskal, pasokan devisa onshore, dan kepastian iklim usaha. Langkah-langkah konkret ini lebih efektif dalam membangun kepercayaan pasar dibandingkan sekadar pernyataan.
Pasar memandang kebijakan fiskal dan pembiayaan sebagai jangkar kepercayaan yang vital. Jika jangkar ini kuat dan kokoh, tekanan kurs biasanya akan lebih cepat mereda dan stabil. Oleh karena itu, pemerintah harus fokus pada kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kepercayaan investor dan pelaku usaha terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Kredibilitas fiskal yang kuat mencakup pengelolaan anggaran yang prudent dan berkelanjutan, sementara pasokan devisa onshore yang memadai dapat membantu menstabilkan nilai tukar. Kepastian iklim usaha juga penting untuk menarik investasi dan menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan lancar, sehingga mengurangi ketergantungan pada fluktuasi eksternal.
Memahami Pelemahan Rupiah dalam Konteks
Pelemahan Rupiah yang mendekati Rp17.000 per Dolar AS tidak boleh dilihat sebagai indikator tunggal kesehatan ekonomi, melainkan sebagai harga yang mencerminkan interaksi kompleks antara faktor global, fundamental domestik, dan ekspektasi pasar. Nilai tukar adalah cerminan dari berbagai dinamika ekonomi yang sedang berlangsung.
Menurut pakar moneter dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej ini, pelemahan rupiah adalah sinyal bahwa pasar sedang menilai ulang risiko, likuiditas dolar, dan arah kebijakan. Ini bukan sekadar penurunan angka, tetapi indikasi adanya penyesuaian pasar terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.
Isu utamanya bukan sekadar level nilai tukar, melainkan stabilitas dan volatilitas. Kurs yang bergejolak jauh lebih berbahaya bagi inflasi, investasi, dan dunia usaha dibandingkan kurs yang melemah secara terukur. Volatilitas kurs dapat mengganggu perencanaan impor bahan baku, menambah biaya hedging, dan membuat investor menunda keputusan penting. Oleh karena itu, menjaga stabilitas adalah prioritas utama.
Sumber: AntaraNews