Kurs Rupiah Tembus Level Rp17.000 per USD, Intip Emiten Saham yang Tertekan dan Raup Cuan
Kondisi saat ini lebih mencerminkan pergeseran preferensi investor, bukan pelemahan pasar secara keseluruhan.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, dampak pelemahan Rupiah yang menyentuh hingga level Rp17.000 per USD tidak bersifat merata. Kondisi ini memicu meningkatnya ketidakpastian, terutama bagi emiten yang memiliki eksposur besar terhadap mata uang asing.
"Pelemahan Rupiah ke Rp17.000 ini menekan pasar karena meningkatkan ketidakpastian, risiko kurs, dan beban biaya, terutama bagi emiten yang punya eksposure dolar," kata Reydi kepada Liputan6.com, Rabu (22/4).
Namun demikian, tidak semua sektor mengalami dampak negatif. Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini lebih mencerminkan pergeseran preferensi investor, bukan pelemahan pasar secara keseluruhan.
Akibatnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung bergerak selektif dan sektoral, mengikuti sentimen terhadap masing-masing industri.
"Di sisi lain, kondisi ini juga membuka peluang bagi emiten tertentu. Jadi yang terjadi bukan penurunan merata, hanya yang tidak punya proteksi kurs akan tertekan. Ini membuat IHSG cenderung selektif dan sektoral," ujarnya.
Emiten Berbasis Ekspor Jadi Pemenang
Di tengah tekanan tersebut, menurut Reydi, emiten dengan pendapatan berbasis dolar justru berada dalam posisi yang diuntungkan. Sektor seperti batu bara, energi, logam mineral, dan crude palm oil (CPO) menjadi sorotan utama.
"Yang paling diuntungkan adalah emiten dengan pendapatan berbasis dolar atau ekspor seperti batu bara, energi, logam mineral dan CPO. Mereka menjual dalam dolar, sementara sebagian biaya dalam rupiah, sehingga saat rupiah melemah, margin membesar," ujarnya.
Selain itu, emiten yang punya kontrak USD atau pasar ekspor dominan juga diuntungkan. Dalam kondisi seperti ini, sektor berbasis komoditas biasanya menjadi menarik bagi investor.
Emiten Impor Tertekan Biaya
Di sisi lain, tekanan paling besar dirasakan oleh emiten yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki biaya dalam dolar AS. Pelemahan Rupiah menyebabkan lonjakan biaya produksi yang sulit dihindari.
Permasalahan menjadi lebih kompleks karena tidak semua perusahaan memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga jual. Jika kenaikan biaya tidak dapat diteruskan ke konsumen, maka margin keuntungan akan tergerus.
"Yang paling tertekan adalah emiten dengan biaya berbasis dolar dan ketergantungan impor. Mereka menghadapi kenaikan biaya bahan baku, tekanan margin. Masalahnya, tidak semua emiten punya ruang fleksibel untuk meneruskan kenaikan biaya ke konsumen, sehingga profitabilitas cenderung tergerus," pungkasnya.