IHSG Diproyeksikan Bergerak Variatif, Ini Rekomendasi Saham Pekan Ini dari Analis
Salah satu data yang paling dinantikan pekan ini adalah Industrial Production China yang menjadi indikator penting untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global dan domestik. Meski perdagangan hanya berlangsung empat hari karena libur Tahun Baru Islam 1448 H, investor tetap perlu mencermati berbagai data ekonomi penting yang berpotensi menggerakkan pasar.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi mengatakan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi China serta keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ). Kedua faktor tersebut dinilai dapat memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan, termasuk Indonesia.
Menurut Imam, salah satu data yang paling dinantikan pekan ini adalah Industrial Production China yang menjadi indikator penting untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur Negeri Tirai Bambu.
"Berbicara tentang market pada sepekan ke depan yang akan berlangsung selama 4 hari karena ada libur Tahun Baru Islam 1448 H, pelaku pasar wajib mencermati sejumlah rilis data menarik seperti rilis data Industrial Production China untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut," kata Imam dalam keterangannya, Senin (15/6).
Data ini sangat krusial bagi perekonomian Indonesia karena China merupakan mitra dagang utama sekaligus tujuan ekspor nonmigas terbesar nasional.
Selain itu, pasar juga menantikan keputusan suku bunga Bank of Japan yang diperkirakan naik 25 basis poin menjadi 1,00 persen dari sebelumnya 0,75 persen. Investor akan mencermati tidak hanya besaran kenaikan suku bunga, tetapi juga sinyal kebijakan moneter yang disampaikan bank sentral Jepang.
Ekspektasi sikap hawkish dari BoJ ini didorong oleh meningkatnya risiko inflasi di dalam negeri akibat lonjakan harga energi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberi sinyal pengetatan moneter yang agresif, investor berpotensi menutup posisi carry trade mereka, yang dapat memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Prediksi Pergerakan IHSG
Sementara itu terkait IHSG, dari titik tertingginya hingga akhir pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam tren turun (downtrend). Hal ini terlihat dari struktur pergerakan yang masih membentuk lower low (LL) dan lower high (LH).
Meski demikian, penurunan IHSG dari titik tertingginya hingga pekan lalu berpotensi telah membentuk lima gelombang (impulsive wave), sehingga tekanan tren turun berpeluang mulai mereda.
"Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286," ujarnya.
Namun, jika mencermati dua candle terakhir, terlihat bahwa pergerakan IHSG mulai kehilangan momentum. Candle pertama membentuk pola spinning top, yang mengindikasikan adanya keragu-raguan di kalangan pelaku pasar. Pada candle terakhir, IHSG sempat menembus (breakout) area spinning top sebelumnya selama perdagangan berlangsung, sehingga memunculkan optimisme di kalangan pelaku pasar. Tapi, pada akhirnya IHSG ditutup dengan membentuk pola shooting star dan gagal menembus area resistance spinning top, yang kembali memunculkan keraguan di pasar.
"Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star. Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695," jelas Imam.
Rekomendasi Saham Pekan Ini
Imam pun merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini, pertama, Buy on Pullback TPIA (Entry: 1715 – 1790, Target Price (TP): 2070 dan Stop Loss (SL): <1680). Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dicermati pasca aksi shareholding rebalancing oleh SCG Chemicals (SCGC) yang menurunkan porsi kepemilikannya dari 29,38 persen menjadi 15,71 persen.
Meski kepemilikan berkurang, SCGC menegaskan tetap menjadi pemegang saham strategis jangka panjang sehingga fundamental dan arah bisnis TPIA tidak berubah.
"Transaksi ini berdampak positif pada peningkatan porsi saham publik (free float) TPIA menjadi sekitar 25,7 persen. Peningkatan ini berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan saham, menarik minat investor institusi global dan produk investasi berbasis indeks, serta berpeluang memberikan valuation re-rating dalam jangka menengah," ujarnya.
Kedua, Buy MNCN (Entry: 214, Target Price (TP): 230 dan Stop Loss (SL): <206). MNCN mulai bergerak sideways yang mengindikasikan tekanan jual cenderung mereda. Di sisi lain, MNCN juga memperlihatkan potensi reversal yang ditunjukkan oleh terbentuknya pola double bottom.
Selain itu, pada time frame yang lebih kecil, terlihat adanya pola bullish harami yang berhasil melakukan rejection di area MA50, sehingga semakin mengonfirmasi potensi pembalikan arah dalam jangka pendek.
Ketiga, Buy on Breakout MAPI (Entry: 1525, Target Price (TP): 1645 dan Stop Loss (SL): <1465). Rekomendasi untuk saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) ini dikeluarkan menyusul adanya aksi korporasi yang signifikan di tingkat manajemen. Perusahaan mengalami perubahan pengendali baru melalui proses akuisisi saham yang bernilai fantastis. Pacific Universal Investments Pte. Ltd. resmi mengambil alih kepemilikan dengan mengakuisisi 51 persen saham Perseroan. Nilai transaksi dari aksi akuisisi strategis ini dilaporkan mencapai Rp11,8 triliun. 4. Buy Obligasi: FR0091 (Kupon: 6,5 persen, Yield: 7,35, Est Harga: 95,45).
Menurutnya, tekanan pada pasar obligasi domestik diperkirakan mulai mereda seiring stabilisasi Rupiah pasca kenaikan suku bunga Bank Indonesia dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dengan terbatasnya ruang kenaikan yield ke depan, obligasi pemerintah tenor menengah hingga panjang ini berpotensi menawarkan imbal hasil menarik sekaligus peluang capital gain saat yield kembali bergerak turun.