Nilai Tukar Rupiah Melemah, Emiten yang Impor Bahan Baku dan Berutang Dolar Terancam Alami Tekanan
Reza menjelaskan, kenaikan kurs dolar otomatis membuat biaya yang harus ditanggung emiten menjadi lebih mahal.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai memberi tekanan besar terhadap emiten yang memiliki eksposur mata uang asing, terutama dalam bentuk utang dan kebutuhan impor bahan baku. Kondisi ini membuat biaya operasional perusahaan meningkat seiring mahalnya nilai tukar USD.
Pengamat Pasar Modal sekaligus Direktur Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, Reza Priyambada mengatakan, dampak pelemahan rupiah akan sangat terasa bagi perusahaan yang masih bergantung pada transaksi berbasis dolar AS, baik untuk pembayaran utang maupun pembelian bahan baku impor.
"Adanya pelemahan nilai tukar Rupiah tentunya akan berimbas negatif bagi para emiten yang memiliki eksposure dalam bentuk USD. Apalagi jika eksposure tersebut dalam bentuk utang maupun beban operasional," kata Reza kepada Liputan6.com, Kamis (7/5).
Reza menjelaskan, kenaikan kurs dolar otomatis membuat biaya yang harus ditanggung emiten menjadi lebih mahal. Kondisi ini terutama dirasakan perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.
Menurutnya, emiten yang membeli bahan baku impor akan menghadapi lonjakan biaya produksi karena harus menukar rupiah dengan USD pada nilai tukar yang lebih tinggi. Situasi tersebut dapat menekan margin keuntungan perusahaan apabila tidak diimbangi kenaikan harga jual.
"Artinya, ada biaya yang harus ditanggung oleh emiten tersebut dan tentunya akan lebih mahal karena USD nya yang bergerak naik. Simpelnya, misalnya bahan baku yang mereka beli, jika belinya impor maka akan lebih mahal," jelasnya.
Ia menambahkan, risiko tersebut sebenarnya bisa diminimalkan jika perusahaan telah memiliki cadangan kas dalam bentuk dolar AS. Dengan begitu, kebutuhan pembayaran impor atau kewajiban lain berbasis USD dapat dipenuhi tanpa harus melakukan konversi rupiah di tengah pelemahan kurs.
"Nah, itu akan balik lagi ke kebijakan masing-masing emiten untuk langkah antisipasi apresiasi USD. Jika katakanlah si emiten telah memiliki cadangan cash dalam bentuk USD maka adanya pembelian bahan baku dalam bentuk USD tidak akan menjadi masalah," ujarnya.
Capital Outflow Tekan Sektor Keuangan
Selain berdampak pada operasional emiten, pelemahan rupiah juga dinilai meningkatkan risiko capital outflow atau keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik. Reza menyebut kondisi tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat dari penurunan kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN).
Di sisi lain, kenaikan Credit Default Swap (CDS) Indonesia juga menjadi sinyal meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar domestik. Kondisi ini berpotensi membuat investor asing lebih berhati-hati menempatkan dananya di Indonesia.
"Terkait dengan risiko potensi terjadinya capital outflow maka hal tersebut sudah terjadi dimana asing telah mengurangi kepemilikannya di SBN dan nilai CDS Indonesia yang mengalami kenaikan. Adanya kejadian ini, tentunya sektor keuangan yang terkena dampaknya," ujarnya.
Investor Diminta Selektif Memilih Saham
Di tengah tekanan nilai tukar dan potensi arus keluar modal asing, Reza meminta pelaku pasar tetap selektif dalam memilih saham. Menurutnya, investor dapat memanfaatkan sejumlah indikator perdagangan sebagai panduan sebelum mengambil keputusan investasi.
Ia menyebut investor dapat memperhatikan volume bid dan offer, kekuatan buy dan sell, hingga perkembangan berita terkait emiten tertentu. Faktor-faktor tersebut dinilai penting untuk melihat kondisi likuiditas dan minat pasar terhadap suatu saham.
"Untuk pilihan saham, balik lagi ke masing-masing pelaku pasar. Kan pelaku pasar bisa melihat berapa volume bid maupun offer, berapa banyak volume buy maupun volume sell, dan sejumlah berita terhadap emiten-emiten tersebut sehingga dapat menjadi panduan dalam memilih saham-saham tersebut," pungkasnya.