Penyembelihan Hewan Kurban Bantul Capai 26 Ribu Ekor, DKPP Temukan Kasus Cacing Hati
DKPP Bantul mencatat 26.963 hewan kurban disembelih saat Idul Adha dan Tasyrik. Meski ditemukan cacing hati, daging tetap aman dikonsumsi dengan penanganan tepat.
Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) melaporkan total 26.963 ekor hewan kurban telah disembelih selama periode Idul Adha hingga hari Tasyrik terakhir. Proses penyembelihan berlangsung mulai tanggal 27 hingga 30 Mei 2026 di berbagai titik di seluruh wilayah Bantul. Data ini dikumpulkan melalui sistem quick count harian yang diterapkan oleh petugas lapangan.
Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, menjelaskan bahwa pelaksanaan penyembelihan hewan kurban tahun ini tersebar di 2.128 lokasi. Adanya temuan penyakit cacing hati atau Fasciola tidak perlu dikhawatirkan masyarakat. Daging tetap aman dikonsumsi dengan penanganan yang benar.
Mayoritas hewan kurban yang disembelih adalah domba, diikuti oleh sapi dan kambing. Ini menunjukkan partisipasi tinggi masyarakat Bantul dalam ibadah kurban. Temuan Fasciola menjadi perhatian DKPP Bantul. Namun, prosedur penanganan telah dilakukan sesuai standar kesehatan hewan.
Data Penyembelihan Hewan Kurban di Bantul
Selama empat hari pelaksanaan Hari Raya Kurban, mulai dari Idul Adha hingga hari Tasyrik terakhir pada 30 Mei 2026, total 26.963 ekor hewan kurban berhasil disembelih di Bantul. Data ini dikumpulkan secara akurat melalui sistem quick count harian yang melibatkan petugas di lapangan. Angka tersebut mencerminkan antusiasme masyarakat Bantul dalam menjalankan ibadah kurban setiap tahunnya.
Joko Waluyo dari DKPP Bantul merinci bahwa jenis hewan kurban terbanyak adalah domba, dengan jumlah mencapai 15.068 ekor. Selain itu, tercatat pula penyembelihan sapi sebanyak 6.364 ekor dan kambing sebanyak 5.531 ekor. Sebagian besar penyembelihan ini terkonsentrasi pada hari pertama dan kedua Tasyrik, menunjukkan puncak aktivitas kurban di wilayah tersebut.
Proses penyembelihan hewan kurban ini tersebar di 2.128 titik lokasi di seluruh Kabupaten Bantul. Jumlah lokasi yang masif ini menunjukkan upaya koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam memfasilitasi pelaksanaan ibadah kurban. Pengawasan di setiap titik menjadi krusial untuk memastikan kelayakan dan kesehatan hewan kurban.
Temuan Penyakit Fasciola dan Penanganannya
Dalam proses pengawasan, petugas lapangan DKPP Bantul menemukan indikasi penyakit cacing hati atau Fasciola pada beberapa hewan kurban. Secara spesifik, 352 ekor sapi, 31 ekor kambing, dan 110 ekor domba teridentifikasi terjangkit Fasciola. Temuan ini menjadi bagian dari laporan rutin yang dicatat oleh tim pengawas kesehatan hewan.
Joko Waluyo menegaskan bahwa temuan Fasciola merupakan kejadian yang umum terjadi setiap tahun selama penyelenggaraan Hari Raya Kurban. Masyarakat diimbau untuk tidak perlu khawatir berlebihan, asalkan penanganan terhadap daging yang terinfeksi dilakukan dengan benar. Edukasi mengenai penanganan ini penting untuk menjaga keamanan pangan.
Pihak DKPP Bantul menjelaskan bahwa hewan kurban yang terjangkit Fasciola masih aman untuk dikonsumsi dagingnya, dengan syarat bagian organ yang terkena cacing hati harus dipotong dan dibuang. "Bagian yang terkena luka cacing hati itu dipotong saja, tidak usah dikonsumsi," jelas Joko. Prosedur ini memastikan bahwa hanya bagian daging yang sehat dan layak konsumsi yang didistribusikan kepada masyarakat.
Kolaborasi Pengawasan Kesehatan Hewan Kurban
Untuk memastikan kelayakan dan kesehatan daging kurban, sebanyak 150 petugas disiagakan selama tiga hari pelaksanaan Hari Raya Kurban. Petugas ini merupakan kolaborasi antara personel dari DKPP Bantul dan para mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM). Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman praktis sekaligus membantu memperkuat tim pengawasan.
Tim gabungan ini bertugas secara aktif di berbagai titik lokasi penyembelihan di Bantul. Mereka melakukan pemeriksaan antemortem (sebelum penyembelihan) dan postmortem (setelah penyembelihan) untuk mendeteksi potensi penyakit atau masalah kesehatan pada hewan kurban. Kehadiran mereka sangat penting untuk memberikan jaminan kualitas daging kurban kepada masyarakat.
Kerja sama antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan tinggi ini menunjukkan komitmen dalam menjaga kesehatan masyarakat melalui pengawasan hewan kurban. Dengan adanya pengawasan yang ketat, diharapkan seluruh daging kurban yang didistribusikan kepada masyarakat Bantul aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).
Sumber: AntaraNews