Empat Saham RI Kelur dari Indeks FTSE, Ini Dampaknya ke Pasar Modal Dalam Negeri
Menurut Reydi, dampak utama dari pengeluaran saham-saham tersebut adalah potensi tekanan jual jangka pendek dari passive funds.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa menilai keluarnya saham DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE lebih berdampak pada masing-masing saham dibanding terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara keseluruhan.
"Pengeluaran DSSA, DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks FTSE cenderung berdampak lebih besar pada saham individual dibanding keseluruhan IHSG," kata Reydi kepada Liputan6.com, Sabtu (23/5).
Menurut Reydi, dampak utama dari pengeluaran saham-saham tersebut adalah potensi tekanan jual jangka pendek dari passive funds serta penurunan likuiditas perdagangan.
"Dampak utamanya adalah potensi tekanan jual jangka pendek dari passive funds dan likuiditas yang turun," ujarnya.
Meski begitu, pengaruhnya terhadap pasar modal Indonesia dinilai tidak terlalu signifikan karena bobot kapitalisasi keempat saham tersebut tidak dominan dalam indeks.
"Namun, pengaruhnya ke pasar modal Indonesia tidak signifikan karena bobot kapitalisasi keempat saham itu tidak dominan terhadap indeks," jelasnya.
Investor Asing Diprediksi Semakin Selektif
Reydi menjelaskan, keputusan FTSE menjadi sinyal bahwa isu free float, likuiditas, dan struktur kepemilikan saham masih menjadi perhatian utama indeks global terhadap pasar Indonesia.
Ia menilai investor asing, khususnya institusi, ke depan akan lebih selektif dalam memilih saham dengan free float besar, transparansi tinggi, serta likuiditas yang kuat. Kondisi ini berpotensi membuat pasar lebih fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps yang memenuhi standar indeks global.
"Investor asing terutama institusi akan semakin selektif memilih saham dengan free float besar, transparansi tinggi, dan likuiditas kuat. Jadi ke depan pasar kemungkinan lebih fokus ke saham-saham big caps yang memenuhi standar indeks global," ujarnya.
Reformasi Pasar Dinilai Perlu Dipercepat
Meski demikian, Reydi menilai prospek pasar saham Indonesia masih tetap menarik dalam jangka menengah. Namun momentum keluarnya sejumlah saham dari indeks FTSE dinilai menjadi sinyal penting bahwa reformasi pasar perlu terus dipercepat agar daya saing Bursa Indonesia tidak tertinggal.
Ia mengingatkan, apabila persoalan HSC dan free float tidak segera dibenahi, maka risiko berkurangnya aliran dana pasif asing ke pasar domestik masih dapat terjadi.
"Jika isu HSC dan free float tidak cepat dibenahi, risiko berkurangnya aliran dana pasif asing ke pasar domestik masih bisa terjadi," pungkasnya.