Pengamat pasar modal Reydi Octa mengungkapkan bahwa pelaku pasar global kini mengalihkan dananya menuju instrumen investasi yang lebih aman. Pergeseran ini terjadi di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, menciptakan ketidakpastian di pasar finansial. Perpindahan modal ini secara langsung memberikan tekanan pada pasar saham Indonesia, di mana investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) yang substansial pada perdagangan Rabu, 21 Januari.
Aksi jual bersih investor asing mencapai Rp1,90 triliun pada perdagangan Rabu tersebut, sebuah indikator jelas dari kehati-hatian investor. Reydi menjelaskan bahwa peningkatan risiko global mendorong investor untuk mencari perlindungan aset. Instrumen seperti emas dan obligasi menjadi pilihan utama karena dianggap lebih rendah risiko di tengah gejolak. Fenomena ini juga memicu aksi ambil untung (profit taking) atau pemotongan kerugian (cut loss) oleh sebagian investor, yang pada akhirnya menekan indeks harga saham.
Volatilitas pasar saham meningkat signifikan akibat ketegangan geopolitik, seperti yang terlihat dalam kasus Greenland. Investor cenderung mengurangi eksposur risiko mereka dengan melakukan aksi jual, termasuk dari pasar negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia. Reydi menegaskan, arus modal keluar asing ini secara langsung menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan, mencerminkan respons pasar terhadap perubahan sentimen global.
Advertisement
Advertisement
Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menjadi faktor pendorong utama di balik pergeseran strategi investasi global. Menurut Reydi Octa, ketika risiko geopolitik meningkat, investor secara naluriah akan memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih stabil dan aman, seperti emas dan obligasi. Langkah ini merupakan upaya untuk melindungi nilai investasi mereka dari potensi kerugian akibat ketidakpastian ekonomi dan politik global.
Kasus Greenland, yang melibatkan keinginan AS untuk mengakuisisi wilayah tersebut, serta ancaman tarif bertahap oleh Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa, telah memperkeruh suasana. Ancaman tarif 10-25 persen terhadap delapan negara anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO), tarif 200 persen untuk anggur Prancis, serta kecaman terhadap Inggris, menunjukkan eskalasi tensi. Di sisi lain, Uni Eropa dengan tegas mendukung Greenland dan Denmark dalam mempertahankan keutuhan wilayah mereka, bahkan pasukan negara-negara Eropa Utara yang menjadi anggota Uni Eropa dan NATO siap beroperasi di kawasan Arktik. Situasi ini menciptakan iklim ketidakpastian yang tinggi, mendorong investor untuk mengurangi paparan risiko mereka terhadap investasi, termasuk di pasar negara berkembang.
Investor global cenderung mengurangi eksposur risiko mereka dengan menjual saham, termasuk yang berasal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Arus modal keluar asing ini secara langsung menekan IHSG, yang merupakan barometer utama kinerja pasar saham Indonesia. Keputusan investor untuk melakukan aksi jual atau cut loss adalah respons defensif terhadap meningkatnya ketidakpastian, yang pada akhirnya berdampak negatif pada kinerja indeks saham.
Advertisement
Advertisement
Dampak langsung dari pengalihan dana investor asing ini terlihat jelas pada kinerja pasar saham Indonesia. Data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia pada Rabu, 21 Januari, menunjukkan bahwa investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,90 triliun. Akibatnya, IHSG ditutup melemah 124,37 poin atau 1,36 persen, mencapai posisi 9.010,33. Pelemahan ini mencerminkan sentimen negatif yang kuat di kalangan investor terhadap prospek pasar saham domestik di tengah gejolak global.
Frekuensi perdagangan saham pada hari tersebut tercatat sebanyak 4.032.229 kali transaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 61,67 miliar lembar saham senilai Rp34,22 triliun. Meskipun volume perdagangan cukup tinggi, dominasi aksi jual menyebabkan 546 saham menurun, berbanding 170 saham yang naik, dan 77 saham yang tidak bergerak nilainya. Ini menunjukkan tekanan jual yang merata di berbagai sektor, mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap kondisi pasar secara keseluruhan.
Reydi Octa juga menyoroti sektor-sektor yang paling terdampak oleh aksi jual bersih ini. Sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi, seperti perbankan, properti, dan konsumer, cenderung mengalami penurunan paling signifikan. Hal ini karena sektor-sektor tersebut sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat, yang dapat terpengaruh oleh ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Investor cenderung menarik dana dari sektor-sektor ini terlebih dahulu saat menghadapi periode ketidakpastian.
Advertisement
Sumber: AntaraNews