RI Pamer Kisah Sukses Membumikan Keuangan Syariah ke Negara Anggota D-8, Ada Malaysia Hingga Saudi

Keuangan syariah bukan sekadar produk pembiayaan yang dipajang di rak bank. Jika dirancang dengan tepat, sistem ini bisa menjadi senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
RI Pamer Kisah Sukses Membumikan Keuangan Syariah ke Negara Anggota D-8, Ada Malaysia Hingga Saudi
PNM Mekaar di Bandung Barat.

Indonesia resmi membuka gelaran Halal Expo Indonesia (HEI) di Jakarta. Ajang besar ini membawa misi ambisius yaitu mempererat investasi halal di antara negara-negara Developing Eight (D-8) demi mendongkrak nilai perdagangan intra-blok hingga US$500 miliar pada 2030 mendatang.

Di tengah riuhnya kerja sama internasional tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) mencuri perhatian delegasi dunia. Melalui sesi HEI Talk, PNM membagikan kisah sukses mereka dalam membumikan keuangan syariah kepada sembilan negara anggota D-8, termasuk Malaysia, Turki, Mesir, hingga Arab Saudi.

Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary menegaskan bahwa keuangan syariah bukan sekadar produk pembiayaan yang dipajang di rak bank. Jika dirancang dengan tepat, sistem ini bisa menjadi senjata paling ampuh untuk mengentaskan kemiskinan.

Bukti nyatanya ada pada program PNM Mekaar. Hingga kini, PNM telah mendampingi 16,1 juta nasabah perempuan prasejahtera yang tersebar di 36 provinsi dan lebih dari 6.600 kecamatan. Hasilnya pun luar biasa, di mana 74 persen nasabah melaporkan kenaikan pendapatan, 72 persen kini lebih mandiri dalam mengambil keputusan rumah tangga, dan 90 persen merasakan kebebasan finansial secara langsung.

Penjaminan Satu Sama Lain

Hal yang membuat para delegasi internasional kagum adalah inovasi PNM dalam menghapus syarat agunan fisik. Di PNM Mekaar, tumpukan dokumen dokumen dan jaminan sertifikat tanah digantikan oleh social collateral alias modal sosial.

Melalui kelompok perempuan yang saling menjamin satu sama lain dalam pertemuan mingguan, akuntabilitas komunitas terbentuk secara alami. Mekanisme 'patungan tanggung jawab' ini rupanya sangat selaras dengan prinsip tanggung renteng dalam sistem keuangan syariah.

Dampaknya pun tidak main-main bagi ekonomi makro. Sejak 2017, perputaran modal dari kaum ibu ini telah menyumbang kenaikan konsumsi rumah tangga nasional sebesar Rp55,81 triliun, serta membantu pertumbuhan ekspor produk binaan hingga menembus angka USD3 miliar.

Bukan Diselamatkan, tapi Diberi Ruang

Di hadapan para delegasi dunia, Dodot menekankan bahwa PNM hadir bukan untuk sekadar memamerkan angka keberhasilan di atas kertas, melainkan untuk mengubah cara pandang dunia terhadap perempuan prasejahtera.

"Enam belas juta perempuan ini tidak pernah meminta untuk diselamatkan. Mereka hanya ingin diberi ruang untuk bertumbuh dan tidak lagi dipandang sebelah mata," ujar Dodot disambut antusias. "Ketika kepercayaan itu diberikan, mereka terbukti mampu mengubah kehidupan keluarga, bahkan komunitasnya. Itulah hakikat asli dari pembiayaan ultra mikro berbasis syariah."

Pernyataan tersebut merangkum filosofi mendalam PNM. Kaum perempuan di pelosok desa yang awalnya tidak memiliki rekening bank bukanlah kelompok tak berdaya yang butuh dikasihani. Mereka adalah kelompok produktif yang selama ini hanya mengantre pintu kesempatan, dan PNM hadir untuk membuka pintu tersebut setiap minggunya.

Kini, dengan 73 persen portofolio produk PNM Mekaar yang telah berbasis syariah, Indonesia sukses menempatkan diri sebagai 'laboratorium hidup' bagi keuangan inklusif dunia. Melalui tiga pilar utama, modal finansial, intelektual, dan sosial.

Rekomendasi