Pencarian lima jurnalis dan tiga orang lainnya yang hilang kontak telah berlangsung tujuh hari. Operasi oleh Tim SAR Gabungan diputuskan diperpanjang selama tiga hari ke depan.
Kepala Basarnas Banten Al Amrad menjelaskan sejumlah kendala di lapangan. Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dan kabut membuat tim sulit mendekati lokasi.
"Untuk di hari pertama, hari kedua memang kita kendala dengan kondisi Anak Krakatau yang belum bisa kita merapat," kata Al Amrad di Posko SAR Nasional, Carita, Pandeglang, Senin (14/9/2026).
Pada hari ketiga hingga keenam, kabut masih menjadi hambatan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu pemantauan dari udara, tetapi juga menyulitkan kapal-kapal yang melakukan pencarian.
Advertisement
Helikopter Dikerahkan Cari Jurnalis Hilang Kontak
Pada hari kelima operasi, Tim SAR Gabungan menerbangkan helikopter untuk melacak lima jurnalis dan tiga orang lain yang hilang kontak. Namun jarak pandang tetap terbatas karena kabut, baik di udara maupun di laut.
"Hari kelima kita terbangkan heli dan memang itu kondisi kabut dengan visibility kurang lebih 1,5, itu di ketinggian 500 feet, ya. Terus teman-teman di lapangan juga termasuk yang menggunakan kapal untuk melakukan searching itu kendalanya adalah di visibility karena kabut," ungkapnya.
Advertisement
Metode Selam Masih Belum Dipastikan
Al Amrad menyebut penggunaan metode penyelaman belum bisa dipastikan. Titik keberadaan korban maupun speedboat yang hilang kontak hingga kini belum ditemukan.
"Kalau untuk metode penyelaman, karena ini titik titik korban belum kita temukan, titik untuk speedboat belum kita temukan, itu bisa belum kita belum bisa pastikan untuk menggunakan penyelaman," ujarnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Tim SAR Gabungan menegaskan upaya pencarian terus dilanjutkan. Tim juga akan memperluas area pencarian hingga radius tiga kilometer dari Gunung Anak Krakatau (GAK).