Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang hingga 17 September

Pencarian lima jurnalis hilang kontak dan tiga awak di Selat Sunda diperpanjang hingga Kamis, 17 September 2026. Basarnas menyesuaikan metode dengan cuaca.

Yandhi Deslatama
Oleh Yandhi Deslatama - Reporter
Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Diperpanjang hingga 17 September
Kepala Basarnas Banten, Al Amrad sebut pencarian 5 jurnalis hilang di Selat Sunda diperpanjang 3 hari

Operasi pencarian lima jurnalis hilang kontak dan tiga awak kapal Arupadhatu 1 di Selat Sunda resmi diperpanjang tiga hari. Tim SAR gabungan dijadwalkan melanjutkan pencarian hingga Kamis, 17 September 2026.

"Dan hasil rapat koordinasi tadi yang disampaikan Pak Gubernur, kita akan lanjutkan pencarian selama tiga hari ke depan," kata Kepala Basarnas Banten Al Amrad, Senin (14/09/2026).

Menurut Al Amrad, komposisi personel dan peralatan tetap sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, penggunaan peralatan tertentu akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di sekitar area pencarian.

Salah satu opsi adalah pemantauan udara menggunakan helikopter, yang pengerahannya mempertimbangkan arah dan kecepatan angin serta adanya debu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

"Tetap kita menggunakan metode menggunakan kapal ya, termasuk juga pemantauan melalui udara. Semua itu tergantung nanti kondisi cuaca seperti apa," jelasnya.

Dia menambahkan, evaluasi menyeluruh telah dilakukan untuk memetakan tantangan lapangan selama sepekan operasi.

"Jadi kita sudah tadi menyampaikan dari hari pertama sampai dengan hari ketujuh, itu kita evaluasi kembali apa yang menjadi tantangan-tantangan kita dan objek yang mana yang belum kita lalui," terangnya.

Kendala Pencarian

Pada hari ketujuh, tim SAR gabungan menghadapi kabut tebal yang membatasi jarak pandang sekitar 1–1,5 mil laut, meski kondisi gelombang cenderung lebih tenang. Keterbatasan visibilitas ini menghambat penyisiran visual di sejumlah titik.

Tim SAR Lampung yang beroperasi dengan KN SAR Basudewa belum dapat memaksimalkan penyisiran di Sektor Z, yang meliputi perairan Teluk Semangka hingga sekitar Pulau Tabuan.

"Untuk beberapa hari sebelumnya memang kondisi cuaca kurang bersahabat. Kecepatan angin cukup tinggi sehingga menyulitkan tim SAR dalam melaksanakan penyisiran beberapa area," kata Fadli, Senin (14/9/2026).

Pada Senin pagi, kondisi perairan tercatat membaik. "Untuk pagi ini, alhamdulillah secara kondisi gelombang cukup tenang. Gelombang ketinggian 0,5 sampai 0,7 meter, artinya masih kondusif," sebutnya.

Kendati demikian, kabut pekat masih menjadi kendala utama. "Namun demikian, kendalanya saat ini adalah visibilitas yang terbatas. Kemungkinan jarak pandang kurang lebih 1 sampai 1,5 mil," sambungnya.

KN SAR Basudewa mengangkut 27 personel gabungan pada operasi hari ketujuh. Kapal bertolak dari Pelabuhan Pelindo Panjang, Bandar Lampung, sekitar pukul 08.00 WIB menuju Sektor Z dengan area tanggung jawab sekitar 512 mil laut persegi, mencakup perairan sekitar Pulau Tabuan dan Teluk Semangka.

Dalam situasi jarak pandang terbatas, tim tetap mengandalkan pengamatan visual dibantu peralatan optik.

"Dengan keterbatasan jarak pandang ini tim SAR memang tidak bisa maksimal. Namun demikian, kita tetap maksimalkan dengan peralatan-peralatan pendukung seperti teropong dan peralatan lainnya," kata Fadli.

Pemetaan pergerakan rombongan juga mengacu pada SAR Map Prediction. "Berdasarkan SAR Map Prediction, arahnya memang mengarah ke wilayah sekitar Teluk Semangka dan beberapa wilayah di Samudra Hindia," ujarnya.

Identitas 8 Orang Hilang

Delapan orang yang masih dicari terdiri atas tiga awak speedboat: Warta (55) selaku kapten kapal, Surakman (60) sebagai ABK, dan Heriyanto (49) sebagai pemandu.

Lima jurnalis yang hilang yaitu M. Bagus Khoirunnas (28) dari ANTARA, Ari Basuki (52) dari Merdeka.com, Yudhis (43) dari iNews, Daus (42) dari Anadolu, serta Donal (51), jurnalis lepas.

Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.

Titik lokasi terakhir dikirim sekitar pukul 14.42 WIB, sementara komunikasi terakhir tercatat pada pukul 15.04 WIB.

Rekomendasi