Trump Tetap Bersikeras Kuasai Greenland

Greenland kembali menarik perhatian pada pertemuan NATO, seiring meningkatnya fokus pada keamanan di wilayah Arktik.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Trump Tetap Bersikeras Kuasai Greenland
Presiden Donald Trump berbicara saat bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di sela KTT NATO di Ankara, Turki, Rabu (8/7/2026). (Dok. AP/Filip Singer)

Pada Rabu, 8 Juli 2026, Presiden Donald Trump mengulangi seruannya agar Amerika Serikat (AS) mengambil alih Greenland. Ia menyatakan bahwa pulau yang terletak di kawasan Arktik tersebut sangat dibutuhkan AS untuk melindungi dunia secara keseluruhan.

Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan bersama Sekretaris Jenderal NATO (Sekjen) Mark Rutte, Trump menegaskan bahwa wilayah otonom yang menjadi bagian dari Denmark itu sangat penting bagi kepentingan AS, meskipun tidak dianggap demikian oleh Denmark.

"Kami dulu menguasai Greenland, lalu dengan bodohnya mengembalikannya. Seharusnya kami tidak mengembalikannya kepada mereka, karena kamilah yang membutuhkannya. Kami membutuhkannya untuk melindungi dunia --- bukan hanya AS," ungkap Trump seperti yang dilansir oleh CNBC.

Pernyataan ini muncul segera setelah Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menegaskan komitmennya untuk mempertahankan setiap jengkal wilayah NATO, termasuk wilayah Denmark. Ia menegaskan kembali bahwa pulau tersebut tidak akan dijual.

"Posisi kami jelas, seperti yang selama ini kami sampaikan. Greenland, tentu saja, tidak dijual," tegas Frederiksen. "Kami berharap semua pihak, termasuk seluruh sekutu, menghormati hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri. Kami adalah negara berdaulat dan kami membutuhkan semua pihak untuk menghormati integritas wilayah serta kedaulatan kami."

Ketika ditanya mengenai kesiapan Denmark untuk mempertahankan Greenland secara militer jika terjadi serangan, Frederiksen menjawab, "Kami siap mempertahankan setiap jengkal NATO, termasuk wilayah kami sendiri."

Ia menambahkan, "Salah satu alasan NATO dibentuk bertahun-tahun lalu adalah agar jika sesuatu terjadi pada salah satu dari kami, semua pihak akan berdiri bersama."

Di hari pertama KTT NATO yang diadakan di ibu kota Turki, Trump kembali mengancam untuk mengakuisisi Greenland. Ia bahkan menyiratkan bahwa AS mungkin akan menarik pasukannya dari Eropa sebagai respons atas penolakan Eropa terhadap rencananya.

Dalam pertemuan bilateral dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada hari Selasa, Trump mengungkapkan bahwa penolakan Eropa untuk mendukung ambisi ekspansionisnya telah merusak hubungan AS dengan NATO.

"Greenland seharusnya dikendalikan oleh AS, bukan oleh Denmark," kata Trump. "Dan ketika mereka tidak mau mengikuti, sementara kami menghabiskan begitu banyak uang untuk membantu mereka menghadapi Rusia --- kami tidak perlu mengeluarkan uang apa pun."

Trump juga menyebutkan bahwa negaranya bisa menarik semua tentara AS dari Eropa, dan menambahkan, "Karena seperti yang mungkin Anda perhatikan, Eropa kini sangat berbeda dari 20 tahun lalu."

Isu mengenai keinginan Trump untuk mengakuisisi Greenland menjadi perhatian utama di kawasan trans-Atlantik pada awal tahun ini. Hal ini terjadi setelah Trump secara berulang kali menyatakan bahwa Amerika Serikat perlu mendapatkan pulau tersebut. Namun, para legislator dari Greenland menegaskan bahwa pulau tersebut tidak untuk dijual.

Trump, yang sebelumnya tidak ragu untuk mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer dalam upaya mencaplok Greenland, secara mengejutkan mengumumkan pada akhir Januari bahwa ia dan Rutte telah menyusun kerangka kesepakatan untuk masa depan wilayah tersebut.

Sejak pengumuman itu, sebuah kelompok kerja yang terdiri dari perwakilan AS, Denmark, dan Greenland telah mengadakan pertemuan untuk membahas langkah-langkah selanjutnya. Rutte mengatakan pada Rabu bahwa Trump sebenarnya memiliki alasan yang kuat dalam upayanya untuk mencegah akses China dan Rusia ke Arktik.

Pernyataan tersebut merujuk pada klaim Trump yang menyatakan bahwa Greenland "dikelilingi" oleh kapal-kapal dari China dan Rusia.

"Jadi, sebagai aliansi, sangat penting bagi kita untuk bekerja sama memastikan hal itu tidak terjadi --- dan itulah yang telah kami sepakati di Davos. Terkait Denmark dan Greenland sendiri, kami juga sudah memiliki proses yang baik," ungkap Rutte.

Rekomendasi