Eropa dan Amerika dilanda cuaca panas ekstrem. Sepanjang bulan Juni 2026, fenomena kubah panas (heat dome) yang ekstrem melanda berbagai belahan dunia. Memicu rekor suhu baru dan dampak yang masif.
Cuaca panas terik biasa berbeda dengan panas ekstrem. Cuaca panas biasa adalah fluktuasi suhu harian yang wajar terjadi selama musim kemarau dan biasanya mereda dalam waktu singkat ketika angin berembus atau malam tiba.
Sedangkan gelombang panas ekstrem merupakan periode anomali di mana suhu udara melonjak hingga lima derajat Celsius atau lebih di atas rata-rata normal wilayah tersebut dan bertahan setidaknya selama tiga hingga lima hari berturut-turut akibat adanya sistem penyumbat atmosfer yang statis.
Lonjakan suhu akhir-akhir ini bukan sekadar variasi cuaca harian biasa yang berganti dalam hitungan jam. Kondisi ini diartikan sebuah anomali iklim sistemik yang mengancam keselamatan makhluk hidup.
Redaksi merdeka.com merangkum seluk beluk kondisi panas ekstrem yang terjadi di Eropa dan Amerika.
Berapa jumlah korban panas ekstrem di Eropa dan Amerika sepanjang Juni 2026?
Panas ekstrem ini menelan ribuan korban jiwa. Dilansir dari Reuters, angka kematian di Prancis, Belgia dan Belanda menembus 3.700 jiwa. Rekor terburuk sepanjang sejarah. Di Prancis, sebanyak 2.025 orang meninggal.
Di Belgia dilaporkan, ada 1.200 orang yang meninggal sepanjang Juni 2026. Angka kematian melonjak bersama fenomena cuaca panas ekstrem. Sementara di Belanda, setidaknya ada 480 orang meninggal.
Sedangkan di Amerika, dilaporkan ada 25 orang meninggal dunia sejak akhir Juni hingga awal Juli akibat panas ekstrem.
Selain korban jiwa, apa dampak paling parah dari panas ekstrem?
Selain hilangnya nyawa, panas ekstrem ini juga memiliki dampak lain. Yaitu, melelehnya aspal dan rel kereta api di kota-kota besar seperti New York, sehingga mengacaukan transportasi. Gelombang panas ekstrem melanda Jerman menyebabkan jalanan meleleh hingga memaksa penutupan sejumlah ruas jalan tol. Dilansir EuroNews, sejumlah ruas jalan tol di Jerman, termasuk Autobahn A2, permukaan aspal mengalami deformasi hingga melengkung akibat panas.
Menurut perusahaan listrik lokal Con Edison, dikutip dari CNN, ribuan pelanggan di New York terkena pemadaman listrik pada hari Jumat dan Sabtu. Sedangkan di Prancis, PLTN mengalami kendala operasional karena air sungai yang digunakan sebagai pendingin suhunya terlalu hangat.
Berapa suhu panas ekstrem di Eropa dan Amerika?
Di Eropa, suhu di beberapa negara melesat melampaui 40°C hingga 45°C. Rata-rata suhu malam hari juga mencetak rekor terhangat dalam sejarah (mencapai 21,6°C hingga 30°C di beberapa wilayah).
Di Jerman, tercatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 41,7 derajat Celsius. Badan Meteorologi Jerman (DWD) mencatat suhu 41,7 derajat Celsius di stasiun pemantau Neißemünde-Coschen, Distrik Oder-Spree, Brandenburg, pada Minggu (28/6) pukul 15.10 waktu setempat. Angka tersebut menjadi suhu tertinggi sejak pencatatan cuaca dimulai pada abad ke-19.
Sedangkan di Amerika, Suhu di Pesisir Timur mendekati 38°C hingga 38,8°C, memecahkan rekor yang bertahan selama lebih dari satu abad di Washington, DC.
Negara mana yang suhu panasnya paling ekstrem sepanjang juni 2026?
Menurut data dari BBC News,wilayah barat dan tengah Eropa menjadi wilayah yang paling terpanggang. Negara dengan suhu terdahsyat antara lain Jerman mencapai 41,7 derajat Celcius dan Polandia 40,5 derajat Celcius di kota Slubice.
Berapa suhu paling panas di Indonesia?
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pertengahan hingga akhir Juni 2026, suhu maksimum di Indonesia berkisar antara 35 derajat Celcius hingga 36,1 derajat Celcius.
Daerah di Indonesia yang mencatat suhu paling panas
Daerah yang mencatatkan suhu paling panas adalah Aceh (khususnya wilayah Aceh Besar melalui Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda dan Stasiun Klimatologi Aceh yang mencatat angka 36,0°C), disusul oleh wilayah Banten (Tangerang Selatan), Lampung, serta beberapa titik di Kalimantan dan Sulawesi.
Apa penyebab suhu panas ekstrem global?
Para ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menyatakan gelombang panas Juni 2026 ini terjadi dengan adanya beberapa faktor. Yaitu, adanya akumulasi emisi karbon dari batu bara, minyak, dan gas menjebak panas di atmosfer global yang membuat krisis Iklim akibat Bahan Bakar Fosil. Eropa sendiri memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global.
Sistem tekanan tinggi yang persisten mengunci udara panas atau dikenal dengan istilah Heat Dome (Kubah Panas), mencegah awan terbentuk dan mengalirkan udara panas langsung dari Gurun Sahara menuju Eropa.
Kelembaban udara yang tinggi membuat indeks Wet Bulb Temperature (suhu bola basah) melonjak, memperparah efek panas bagi manusia.
Mengapa orang Indonesia lebih tahan terhadap suhu panas?
Indonesia memiliki suhu harian yang relatif tinggi sepanjang tahun, umumnya sekitar 27-34 derajat celcius. Sebaliknya, banyak negara di Eropa memiliki suhu musim panas yang biasanya jauh lebih rendah, sehingga lonjakan hingga 38-45 derajat celcius merupakan perubahan yang jauh lebih drastis.
Berada di negara dengan iklim tropis membuat tubuh orang Indonesia terbiasa mengatur suhu internal melalui produksi keringat yang lebih efisien dan pengaturan volume darah yang stabil di lingkungan hangat.
Rumah dan gaya hidup di Indonesia umumnya dirancang untuk ventilasi udara alami, berbeda dengan rumah-rumah di Eropa yang dirancang tertutup rapat untuk menahan panas di musim dingin, sehingga saat musim panas tiba, rumah mereka justru berubah menjadi “oven".
Namun, bukan berarti orang Indonesia kebal terhadap panas ekstrem. Mereka umumnya lebih bisa teraklimatisasi dengan cuaca panas tropis. Namun jika suhu dan kelembapan mencapai tingkat yang sangat tinggi atau paparan berlangsung lama, risiko penyakit akibat panas tetap signifikan.
Menurut ahli kesehatan lingkungan, dokter Dicky Budiman, panas di Indonesia justru bisa terasa lebih berbahaya dibandingkan di beberapa wilayah Eropa. Pasalnya, kelembapan udaranya sangat tinggi.
“Saat kelembapan tinggi, keringat itu sulit menguap sehingga mekanisme pendinginan alami tubuh jadi kurang efektif akibatnya risiko heat stroke, dehidrasi, hingga gangguan jantung, dapat meningkat lebih tinggi dibanding Eropa meski suhu di kita mungkin hanya di kisaran 34-36 derajat Celcius,” paparnya.
Bagaimana solusi menghadapi panas ekstrem di Indonesia?
Langkah yang dapat diambil dengan menghindari aktivitas luar ruangan pada jam terik (11.00–15.00), menjaga hidrasi secara agresif meskipun tidak haus, dan menggunakan pelindung UV.
Sedangkan untuk jangka panjang, kita dapat menambah ruang terbuka hijau di perkotaan untuk mengurangi efek Urban Heat Island (pulau panas perkotaan), mengoptimalkan penyebaran info berbasis wilayah dari BMKG agar masyarakat dan pekerja lapangan bisa mengantisipasi hari-hari terpanas, membuat sirkulasi udara alami yang baik pada rumah dan gedung untuk mengurangi ketergantungan pada AC yang justru membuang panas ke lingkungan luar.
Reporter: Hanan Amira