Di Rusia, platform iklan melaporkan adanya lonjakan yang signifikan dalam penjualan implan payudara bekas secara online. Fenomena ini menjadi perhatian mengingat banyak wanita yang kini memilih untuk menjual implan mereka.
Sebagaimana yang dilaporkan oleh Oddity Central pada Selasa (7/7/2026), dokter bedah plastik mencatat penurunan sekitar 40 persen dalam jumlah operasi pembesaran payudara selama sepuluh tahun terakhir. Penurunan ini dipicu oleh krisis ekonomi yang sedang melanda Rusia, yang berpengaruh terhadap popularitas implan payudara.
Banyak wanita memberikan berbagai alasan untuk melepaskan implan mereka, tetapi beberapa analis berpendapat bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan masalah ekonomi yang ada. Ketidakstabilan nilai tukar, penurunan daya beli, serta penarikan bank dan perusahaan asing, ditambah dengan kelangkaan bahan bakar, telah memengaruhi kehidupan masyarakat Rusia secara menyeluruh.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan sehari-hari, banyak orang yang terpaksa menjual barang-barang berharga yang mereka miliki. Hal ini menjadi perhatian khusus, terutama karena penjualan implan bekas ini banyak berasal dari kota-kota makmur seperti St. Petersburg dan Moskow.
Saluran Telegram BAZA melaporkan bahwa harga implan berkualitas tinggi telah anjlok hingga tiga sampai empat kali lipat di bawah harga aslinya. Misalnya, implan Mentor yang awalnya seharga 140.000 Rubel (sekitar Rp 32,6 juta) kini dijual hanya seharga 35.000 Rubel (Rp 8,1 juta), sementara implan Motiva yang semula seharga 200.000 Rubel (Rp 46,6 juta) turun menjadi 30.000 Rubel (Rp 6,9 juta).
Meskipun harga tersebut sangat menarik, tidak ada dokter bedah yang bersedia melakukan prosedur dengan menggunakan implan bekas. Setelah dilepas, implan tersebut masih mengandung berbagai biomaterial dari pemilik sebelumnya, yang membuatnya sulit untuk dibersihkan secara menyeluruh dengan formalin.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa menggunakan implan bekas dari orang lain dapat menimbulkan risiko serius, seperti nekrosis jaringan bahkan kematian. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan sistem kekebalan tubuh menolak implan yang memiliki biomaterial dari individu lain.