Kepala perunding Iran mengungkapkan, Selat Hormuz hanya akan dibuka sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Iran. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin meningkat setelah kedua negara terlibat dalam serangkaian serangan militer yang saling dibalas.
"AS masih belum memahami bahwa intimidasi dan pengingkaran janji kini tidak lagi bisa dilakukan tanpa konsekuensi," ujar Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga menjabat sebagai ketua Parlemen Iran, dalam sebuah unggahan di platform X, Kamis (9/7).
Dia menegaskan, tindakan tersebut tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa balasan yang setimpal.
"Saya tegaskan, jika kalian menyerang, kalian akan diserang," tambahnya dengan nada tegas.
Pernyataan ini menunjukkan sikap Iran yang tidak akan tunduk pada ancaman dari pihak AS.
Ghalibaf juga menekankan Selat Hormuz tidak akan dibuka jika ada ancaman atau tekanan militer dari AS. Sikap keras ini diambilnya beberapa jam setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan, mereka telah menyelesaikan operasi militer tambahan yang menyerang wilayah Iran.
Serangan udara yang dilakukan oleh AS berlangsung dalam dua gelombang dalam waktu 48 jam terakhir. Gelombang pertama dimulai pada Rabu dini hari yang menghantam lebih dari 80 target militer sebagai respons terhadap insiden penyerangan tiga kapal komersial internasional di Selat Hormuz.
Tidak lama setelah itu, militer AS meluncurkan serangan kedua pada Rabu malam yang menyasar sekitar 90 target di sepanjang pantai selatan Iran, termasuk sistem pertahanan udara, gudang rudal dan drone, serta infrastruktur logistik penting di beberapa lokasi seperti Bushehr, Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik.