IHSG Anjlok Dipicu Rebalancing MSCI, OJK: Ini Momentum Investor Masuk
Hasan mengatakan, pelemahan indeks yang terjadi masih berada dalam batas koreksi wajar dan tidak menunjukkan adanya kepanikan di pasar.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan pada Rabu (13/5) pagi. IHSG dibuka melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94 setelah pengumuman rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Meski pasar melemah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum menarik bagi investor untuk mulai masuk secara selektif ke pasar saham domestik.
"Jadi, ini juga menunjukkan sebetulnya kami berharap para investor kita secara selektif memanfaatkan momentum ini untuk masuk di pasar dan memilih saham-saham terbaik yang secara prospektif dapat terus melakukan, katakanlah, perbaikan kinerja dari waktu-waktu ke depannya," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam Konferensi Pers Pengumuman Rebalancing MSCI, di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (13/5).
Hasan mengatakan, pelemahan indeks yang terjadi masih berada dalam batas koreksi wajar dan tidak menunjukkan adanya kepanikan di pasar.
"Masih dalam batasan koreksi yang rentang yang wajar. Kemudian, tadi frekuensi dan volume serta nilai transaksi juga cukup baik. Secara rata-rata tidak ada perbedaan normal dibandingkan hari-hari sebelumnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG saat ini turut dipengaruhi dinamika global, termasuk tensi geopolitik dan dampak rebalancing MSCI. Namun di balik koreksi tersebut, valuasi pasar saham Indonesia dinilai kini semakin kompetitif dibandingkan pasar regional lainnya.
Price to Earning Ratio IHSG
Menurut dia, rasio price to earning ratio (PER) IHSG saat ini telah turun jauh dibandingkan posisi saat pasar mencapai all time high pada pertengahan Januari lalu.
"Kita perhatikan sebetulnya tingkat rata-rata harga-harga yang dicerminkan dari rasio price earning ratio atau per-nya IHSG kita sekarang sudah jauh di bawah posisi pada saat terjadi all time high di pertengahan Januari. Sekarang bahkan secara PER regional, tingkat rata-rata per saham-saham kita sudah ada di bawah per rata-rata bursa-bursa lainnya. Sekarang tingkatnya di level 16 kali," jelasnya.
Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa harga saham di Bursa Efek Indonesia saat ini relatif lebih murah dan menarik untuk investasi jangka menengah maupun panjang.
Hasan berharap investor dapat memanfaatkan momentum koreksi ini untuk memilih saham-saham yang memiliki fundamental dan prospek kinerja yang baik ke depan.
Rebalancing MSCI Dinilai Jadi Koreksi Jangka Pendek
OJK menilai tekanan yang terjadi pascapengumuman MSCI merupakan konsekuensi jangka pendek dari reformasi integritas pasar modal yang tengah dijalankan regulator.
Hasan menyebut proses pembenahan pasar memang dapat memunculkan 'short term pain' berupa penyesuaian harga saham yang terdampak oleh perubahan komposisi indeks global.
"Apa yang dilakukan secara struktural ini tentu akan setidaknya memiliki implikasi jangka pendek berupa, katakanlah, penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak. Sehingga istilah short term pain gitu ya, bahwa kita akan harus menghadapi katakanlah, tingkat penurunan di jangka pendek ini tentu menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” pungkasnya.