IHSG Dibuka Menguat ke Level 6.321 Pagi Ini, Rupiah Justru Melemah ke Rp17.738 per USD
Sedangkan, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 5,46 poin atau 0,87 persen ke posisi 630,14.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi dibuka menguat 66,99 poin atau 1,07 persen ke posisi 6.321,96.
Sedangkan, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 5,46 poin atau 0,87 persen ke posisi 630,14.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada Rabu pagi dibuka melemah 13 poin atau 0,07 persen di level Rp17.738 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya yang Rp17.725 per dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada rentang Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS. Proyeksi tersebut muncul setelah tekanan terhadap dolar AS mulai mereda akibat meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas geopolitik global.
"Untuk perdagangan Rabu (17/6) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.690- Rp17.728," ujar Ibrahim kepada media, Rabu (17/6).
Adapun sebelumnya pada perdagangan Selasa (16/6), rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.725 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.708 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang rupiah sempat menguat sekitar 5 poin sebelum akhirnya berbalik tertekan menjelang penutupan pasar.
Menurut Ibrahim, faktor utama yang mendukung prospek penguatan rupiah adalah pengumuman Washington dan Teheran terkait kerangka kerja perdamaian yang akan mengakhiri konflik kedua negara serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Turunkan Risiko Gangguan Pasokan Energi
Kesepakatan awal tersebut dinilai mampu menurunkan risiko gangguan pasokan energi global yang selama ini menjadi kekhawatiran investor. Rencana penandatanganan resmi pada akhir pekan ini juga memicu pergeseran dana ke aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Sentimen positif semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent anjlok ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan harga energi dipandang dapat mengurangi tekanan inflasi global dan memberikan ruang yang lebih besar bagi pemulihan ekonomi di berbagai negara.
Di sisi lain, pasar saham global bergerak menguat karena investor menyambut baik prospek biaya energi yang lebih rendah. Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian mengenai implementasi perjanjian tersebut karena kedua negara menyebutkan bahwa gencatan senjata permanen masih harus melalui proses negosiasi lanjutan.
"Minyak mentah Brent jatuh ke level terendah tiga bulan pada hari Senin, sementara ekuitas global menguat karena ekspektasi bahwa biaya energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi," ujarnya.