Kementrans Harap Dampak Program TEP 2026 Meluas dari Pangan hingga Maritim
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi berharap Dampak Program TEP Kementrans 2026 tidak hanya di sektor pangan, tetapi juga perkebunan dan maritim, demi percepatan ekonomi di kawasan transmigrasi.
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi menyatakan harapannya agar Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 membawa dampak signifikan. Program ini diharapkan tidak hanya menguntungkan sektor pangan, tetapi juga perkebunan dan maritim di wilayah transmigrasi. Pernyataan tersebut disampaikan usai Musyawarah Wilayah VII Majelis Wilayah KAHMI Provinsi Bali di Denpasar, Bali.
Implementasi TEP tahun ini berfokus pada pengembangan inovasi dan teknologi tepat guna. Tujuannya adalah menunjang pengolahan produk unggulan di kawasan transmigrasi. Hal ini sesuai dengan rekomendasi hasil riset tahap pertama program tersebut pada tahun 2025.
Sebanyak 1.476 peserta terpilih akan ditugaskan ke 54 kawasan transmigrasi prioritas. Mereka akan berkolaborasi dengan penduduk setempat untuk mempercepat pertumbuhan pusat ekonomi baru. Inovasi dan kreasi diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran di wilayah tersebut.
Inovasi dan Kolaborasi Peserta TEP 2026
Program TEP 2026 dirancang untuk mendorong pemanfaatan inovasi dan teknologi tepat guna. Fokusnya adalah pada pengolahan produk unggulan yang beragam, tidak terbatas pada komoditas pangan. Wamentrans Viva Yoga Mauladi menegaskan bahwa orientasinya mencakup maritim, perkebunan, dan sektor lainnya.
Dari total 10.359 pendaftar, sebanyak 1.476 orang berhasil lolos seleksi sebagai peserta TEP 2026. Mereka terdiri dari 1.230 anggota dan 246 ketua tim. Peserta ini berasal dari 10 perguruan tinggi mitra serta 157 perguruan tinggi lainnya, termasuk beberapa kampus internasional.
Kampus-kampus luar negeri yang turut berpartisipasi antara lain University of Melbourne, University of Glasgow, dan King’s College London. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang pendidikan ini diharapkan membawa perspektif baru. Kolaborasi mereka dengan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan program.
Mendorong Pertumbuhan Ekonomi di Kawasan Transmigrasi
Para peserta TEP akan ditempatkan di 54 kawasan transmigrasi prioritas. Tugas utama mereka adalah berkolaborasi dengan masyarakat setempat. Tujuannya adalah menciptakan kreasi dan inovasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan.
Viva Yoga Mauladi menekankan pentingnya membangun sistem pertumbuhan ekonomi di kawasan transmigrasi. Dampak positifnya diharapkan tidak hanya dirasakan oleh transmigran yang tinggal di Satuan Pemukiman (SP Transmigrasi). Namun juga oleh masyarakat lokal di sekitarnya.
Program transmigrasi telah terbukti mampu mendorong pengembangan signifikan. Hingga saat ini, program tersebut telah berkontribusi pada 1.567 desa dan 466 kecamatan. Selain itu, 116 kabupaten/kota serta tiga ibu kota provinsi juga merupakan hasil dari program ini.
- Tiga ibu kota provinsi yang merupakan produk program transmigrasi adalah:
- Tanjung Selor di Provinsi Kalimantan Utara
- Mamuju di Provinsi Sulawesi Barat
- Salor, Merauke di Provinsi Papua Selatan
Secara keseluruhan, program pembangunan transmigrasi telah memindahkan sekitar 2,2 juta kepala keluarga. Jumlah ini setara dengan 9,1 juta jiwa penduduk.
Sumber: AntaraNews