Mendesak: Seruan 'Taubat Ekologis' untuk Pemulihan Lingkungan Indonesia
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyerukan 'Taubat Ekologis', gerakan kolektif untuk mengakui kesalahan manusia terhadap alam dan memulai pemulihan lingkungan di Indonesia.
Jakarta, 13 Juni (ANTARA) - Nenek moyang kita dahulu kala meyakini bahwa bencana adalah pertanda kegagalan manusia hidup selaras dengan alam. Mereka memperlakukan hutan sebagai tempat suci kehidupan, sungai dihormati sebagai sumber penghidupan, gunung dijaga karena dianggap menjaga keseimbangan alam, dan lautan dipelihara sebagai domain tempat manusia menggantungkan masa depan.
Namun, seiring berjalannya waktu, hubungan manusia dengan alam bergeser drastis. Kini, banyak yang memandang alam hanya sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi sepenuhnya. Hutan hanya menjadi angka dalam laporan produksi, sungai berubah menjadi saluran pembuangan limbah, gunung dilihat sebagai cadangan material, dan lautan digunakan sebagai tempat pembuangan berbagai bentuk polusi, dengan asumsi semua itu akan hilang dengan sendirinya.
Ketika banjir melanda lebih sering, tanah longsor menelan permukiman, kekeringan mencekik mata pencarian, dan udara semakin tercemar, manusia sering melabeli peristiwa ini sebagai 'bencana alam'. Padahal, di balik banyak krisis ini tersembunyi jejak panjang keputusan manusia yang selama puluhan tahun mengabaikan keseimbangan ekologis. Oleh karena itu, seruan 'taubat ekologis' yang digagas oleh Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat harus menjadi gerakan kolektif yang dimulai sekarang.
Makna Mendalam Taubat Ekologis
Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, menilai istilah 'taubat ekologis' sangat tepat untuk mengatasi tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia saat ini. Menurutnya, taubat ekologis—atau konversi ekologis—membawa resonansi yang mendalam, mencakup moralitas, kesadaran, dan refleksi yang mendalam.
Dalam tradisi yang mengakar kuat di masyarakat Indonesia, taubat bukan sekadar mengakui kesalahan. Ini adalah keberanian untuk merefleksikan diri, dimulai dengan kemauan untuk mengakui kesalahan, merasakan penyesalan yang tulus, menghentikan perilaku destruktif, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Taubat ekologis menyerukan kepada setiap individu untuk mengakui bahwa manusia, sejak lama, telah melakukan kerusakan mendalam terhadap alam.
Alam terlalu sering diperlakukan hanya sebagai objek eksploitasi, padahal ia adalah ruang hidup bersama yang menopang keberadaan manusia. Oleh karena itu, konsep taubat ekologis berfungsi sebagai pengingat penting: ancaman lingkungan yang dihadapi manusia saat ini tidak muncul begitu saja. Banyak di antaranya adalah konsekuensi langsung dari pilihan yang dibuat selama beberapa dekade terakhir.
Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata
Di balik banjir, tanah longsor, dan krisis air, terdapat realitas hilangnya tutupan hutan, daerah tangkapan air yang terdegradasi, sungai yang tercemar, dan pembangunan yang terkadang melampaui kapasitas alam untuk menopangnya. Namun, seperti halnya taubat dalam arti spiritual, kesadaran saja tidak pernah cukup. Penyesalan tanpa tindakan hanya akan menghasilkan retorika kosong. Taubat ekologis sejati menuntut tindakan nyata.
Menurut Toto Izul Fatah, seruan ini harus diterjemahkan ke dalam kemauan politik untuk mereformasi kebijakan dan praktik yang telah lama mendorong degradasi lingkungan. Izin usaha yang merusak lingkungan harus ditinjau secara ketat, dan penegakan hukum terhadap para pencemar harus diterapkan secara tegas dan konsisten.
Selain itu, upaya pemulihan area yang terdegradasi harus ditingkatkan, sementara pembangunan di masa depan harus selaras dengan daya dukung alam untuk mencegah krisis baru. Yang terpenting, tanggung jawab melindungi lingkungan tidak boleh hanya dibebankan pada masyarakat akar rumput.
Sejauh ini, ada kesan bahwa sementara warga didesak untuk mengurangi plastik, menanam pohon, atau menghemat air, industri berskala besar dengan jejak lingkungan yang jauh lebih masif luput dari pengawasan yang memadai. Melindungi planet adalah tanggung jawab bersama pemerintah, sektor bisnis, dan masyarakat. Taubat ekologis tidak boleh menjadi seruan kosong yang hanya ditujukan kepada kelompok tertentu; ia harus menumbuhkan kesadaran bersama di setiap segmen bangsa.
Gerakan Penanaman Dua Miliar Pohon dan Tantangannya
Sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan, pemerintah Indonesia menargetkan penanaman dua miliar pohon secara nasional. Pohon memang membantu menyerap karbon, melindungi sumber air, menstabilkan tanah dari tanah longsor, mengurangi risiko banjir, meningkatkan kualitas udara, dan menghidupkan kembali ekosistem yang terdegradasi.
Namun, keberhasilan reboisasi tidak ditentukan oleh berapa banyak bibit yang ditanam dalam satu hari. Metrik sebenarnya diukur dari berapa banyak pohon tersebut yang masih berdiri bertahun-tahun kemudian. Meskipun menanam pohon adalah awal yang baik, ini membutuhkan kesabaran, komitmen, dan konsistensi yang jauh lebih besar. Ini juga menuntut tanah yang tepat, air yang cukup, perlindungan dari kerusakan, dan perawatan berkelanjutan.
Oleh karena itu, inisiatif ini membutuhkan perencanaan yang cermat. Masyarakat berhak mengetahui jenis pohon yang ditanam, lokasi penanaman, total area yang tersedia, siapa yang bertanggung jawab atas pemeliharaannya, dan pendanaan yang mendukung keberlanjutan program jangka panjang. Pemilihan jenis pohon juga harus mempertimbangkan kebutuhan spesifik setiap wilayah.
Daerah aliran sungai membutuhkan pohon yang mampu meningkatkan fungsi hidrologi. Area rawan longsor membutuhkan vegetasi berakar dalam, sementara area perkotaan membutuhkan pohon peneduh yang juga berfungsi sebagai penyerap polusi. Di pedesaan, tanaman produktif dapat dipertimbangkan karena dapat menawarkan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal, di luar fungsi restorasi ekologisnya.
Taubat ekologis adalah seruan mendesak untuk memperbaiki hubungan yang renggang antara manusia dan alam. Selama ini, bukan hanya hutan, sungai, lautan, atau gunung yang terdegradasi. Yang perlahan rusak bersamanya adalah cara pandang manusia terhadap kehidupan itu sendiri. Ketika manusia belajar menghormati alam lagi, mereka pada dasarnya belajar menghormati masa depan mereka sendiri. Dengan menanam pohon, melindungi sungai, menjaga hutan, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana, mereka tidak hanya memelihara lingkungan tetapi juga memelihara harapan agar planet ini tetap layak huni bagi generasi mendatang. Inilah esensi sejati dari taubat ekologis—menyembuhkan bukan hanya bumi, tetapi juga nurani manusia, untuk mengingat bahwa umat manusia adalah bagian dari alam, bukan penguasanya.
Sumber: AntaraNews