DWP KLH/BPLH Soroti Peran Perempuan sebagai Motor Penggerak Lingkungan Berkelanjutan
Dharma Wanita Persatuan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (DWP KLH/BPLH) menyoroti peran perempuan sebagai motor penggerak utama dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju lingkungan berkelanjutan, mengingat pengar
Dharma Wanita Persatuan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (DWP KLH/BPLH) menyoroti peran krusial perempuan dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat. Fokus utamanya adalah pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan. Penekanan ini disampaikan dalam acara International Environment Technology and Innovation Expo & Conference (Invirotech) 2026 di Jakarta.
Penasehat DWP KLH/BPLH, Alia Febyani Prabandari Jumhur Hidayat, menyatakan bahwa perempuan memiliki kapasitas besar. Mereka mampu menjadi agen perubahan penting di tengah masyarakat luas. Hal ini didasari fakta bahwa sekitar 49 persen penduduk Indonesia adalah perempuan, dengan sebagian besar di antaranya merupakan pekerja.
Perempuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan keluarga serta komunitas sekitar. Kapasitas ini menjadikan mereka motor penggerak berbagai gerakan lingkungan yang efektif. Kesadaran akan peran ini menjadi kunci untuk mencapai tujuan lingkungan yang lebih baik.
Perempuan sebagai Agen Perubahan Lingkungan
Alia Febyani Prabandari Jumhur Hidayat menegaskan bahwa perempuan di Indonesia memiliki akses edukasi yang cukup baik. Kondisi ini memungkinkan mereka untuk lebih aktif dalam menyebarkan kesadaran lingkungan. Mereka dapat menjadi teladan dalam praktik hidup ramah lingkungan sehari-hari.
Pengaruh besar perempuan dalam keluarga dan komunitas menjadikan mereka kekuatan pendorong utama. Mereka mampu menginspirasi perubahan positif dalam pengelolaan lingkungan. Hal tersebut diulas dalam talkshow "Green Beauty Lifestyle: Bijak Memilih Produk Kebutuhan Perempuan yang Ramah Lingkungan".
Talkshow yang diselenggarakan DWP KLH/BPLH ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat. Fokusnya meliputi gaya hidup berkelanjutan, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, serta pemanfaatan teknologi hijau. Semua ini merupakan langkah konkret menuju lingkungan yang lebih baik.
Optimalisasi Peran Organisasi dan Komunitas Perempuan
Peran strategis organisasi perempuan seperti Dharma Wanita Persatuan dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sangat disorot. Berbagai komunitas perempuan juga dinilai memiliki potensi besar dalam memperluas edukasi lingkungan. Mereka dapat menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.
Alia juga mengungkapkan bahwa keberhasilan program bank sampah selama ini tidak terlepas dari tingginya partisipasi perempuan. Lebih dari 50 persen peserta aktif dalam program ini adalah perempuan. Ini menunjukkan komitmen kuat mereka terhadap kebersihan lingkungan.
Oleh karena itu, program bank sampah perlu terus diperluas jangkauannya. Targetnya meliputi lingkungan permukiman, sekolah, kampus, hingga berbagai komunitas masyarakat. Edukasi dan kampanye berkelanjutan juga sangat krusial agar kesadaran masyarakat terus tumbuh dan berkembang.
Generasi Muda dan Peran Perempuan sebagai Pilar Keluarga
Untuk memperkuat upaya pelestarian lingkungan, KLH/BPLH juga mendorong keterlibatan generasi muda. Pendidikan lingkungan di sekolah menjadi salah satu fokus utama. Pemanfaatan media sosial dan kolaborasi dengan influencer juga dioptimalkan.
Langkah ini bertujuan memperluas jangkauan kampanye pengelolaan sampah dan gaya hidup berkelanjutan. Generasi muda diharapkan menjadi pelopor perubahan di masa depan. Mereka akan membawa semangat baru dalam menjaga kelestarian alam.
Haruki Agustina, Direktur Mitigasi Perubahan Iklim Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon, menambahkan pandangannya. Menurutnya, perempuan adalah garda terdepan dalam gerakan pelestarian lingkungan. Mereka memiliki peran penting sebagai pilar utama keluarga.
Dari lingkungan rumah, perempuan memiliki potensi besar untuk mengedukasi anggota keluarga. Mereka dapat mengajarkan kebiasaan memilah sampah dan menjaga kebersihan. Ini adalah fondasi awal untuk membangun kesadaran lingkungan yang kuat.
Haruki menjelaskan bahwa kebiasaan memilah sampah dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat efektif. Perubahan perilaku yang dimulai dari rumah tangga dapat menular. Hal ini akan menyebar kepada anggota keluarga, tetangga, hingga masyarakat luas secara berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews