HKTI Kediri Dorong Koperasi Sektor Produktif Olah Tebu, Tingkatkan Ekonomi Petani
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kediri gencar mendorong koperasi sektor produktif untuk mengolah hasil pertanian, khususnya tebu, demi menggerakkan ekonomi lokal dan kesejahteraan petani.
Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Kabupaten Kediri, Jawa Timur, aktif mendorong koperasi untuk memiliki unit usaha produksi. Langkah ini bertujuan mengolah berbagai hasil pertanian, termasuk tebu, menjadi produk bernilai tambah.
Dorongan ini diharapkan dapat membuka peluang baru bagi para petani, terutama dalam diversifikasi produk olahan tebu seperti gula merah atau produk turunannya. Inisiatif ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani di wilayah tersebut.
Pemerintah daerah setempat dan Kementerian Koperasi juga turut mendukung upaya ini sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi kerakyatan. Tujuannya adalah mencapai swasembada gula nasional dan mengurangi tingkat urbanisasi di pedesaan.
Potensi Pengolahan Tebu oleh Koperasi untuk Kesejahteraan Petani
Ketua DPC HKTI Kabupaten Kediri, Sumadianto, menyatakan bahwa berbagai produk dapat dihasilkan dari tanaman tebu, seperti gula merah atau produk lanjutannya menjadi kecap. Ia melihat ini sebagai peluang baru yang signifikan bagi petani.
Sumadianto menjelaskan bahwa jika tidak ada usaha pengolahan gula merah, seluruh hasil panen tebu akan masuk ke pabrik gula, padahal tebu bisa diolah menjadi produk lain yang lebih beragam. Produksi gula merah dari Kabupaten Kediri sangat diminati dan sebagian terserap sebagai bahan baku pembuatan kecap.
Pria yang juga pengurus Asosiasi Gula Merah Kabupaten Kediri ini menambahkan bahwa jumlah UMKM yang bergerak di bidang pembuatan gula merah di Kabupaten Kediri cukup besar. Terdapat sekitar 350 perajin gula merah yang mayoritas masih industri rumahan, dengan masa puncak produksi tergantung pada masa panen tebu.
Petani kini semakin cerdas dalam memilih varietas tebu berkualitas dengan masa panen yang lebih singkat. Hal ini memungkinkan petani untuk memanen lebih cepat, meningkatkan efisiensi dan potensi produksi.
Dukungan Pemerintah untuk Koperasi Sektor Produktif dan Industri Gula Nasional
Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, Mohamad Solikin, menegaskan bahwa pemerintah kabupaten sangat mendukung pengembangan koperasi menuju usaha pengolahan hasil pertanian, termasuk tebu. Dukungan ini semakin kuat jika produk mampu dikemas dengan baik sehingga menarik pasar.
Pemerintah kabupaten juga intensif memberikan pendampingan kepada koperasi agar mereka lebih berdaya dan mandiri. Dukungan pemerintah untuk menggerakkan ekonomi di tingkat bawah sangat luar biasa, dengan harapan ekonomi pedesaan dapat bergerak dan mengurangi urbanisasi.
Sebelumnya, Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono saat berada di Kediri juga menekankan pentingnya koperasi untuk masuk dalam ekosistem industri gula. Ia juga mengoptimalkan kemitraan antara petani dan koperasi.
Menkop menjelaskan bahwa kemitraan antara petani, koperasi, dan industri sangat krusial karena sektor gula merupakan komoditas strategis. Sektor ini berkaitan langsung dengan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
Memperkuat Koperasi dalam Rantai Pasok Gula: Tantangan dan Solusi
Pemerintah telah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2028. Untuk mencapai target ini, diperlukan penguatan sektor hulu hingga hilir secara terintegrasi, di mana koperasi memiliki peran vital.
Menkop menilai bahwa tantangan utama petani tebu saat ini bukan hanya meningkatkan produksi, melainkan juga memperoleh kepastian pasar. Selain itu, kepastian penyerapan hasil panen dan kepastian usaha yang menguntungkan juga menjadi fokus utama.
Melalui koperasi sektor produktif, petani dapat memiliki kekuatan kolektif dalam negosiasi harga dan akses pasar yang lebih luas. Hal ini akan mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan pabrik besar.
Dengan adanya unit usaha pengolahan di bawah koperasi, nilai tambah produk tebu dapat dinikmati langsung oleh anggota. Strategi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem pertanian yang lebih adil dan berkelanjutan bagi petani tebu di Indonesia.
Sumber: AntaraNews