Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menjalin kemitraan strategis dengan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Kolaborasi ini bertujuan membantu kelompok tani hutan (KTH) memasarkan produk berbasis hutan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi lokal secara signifikan.
Pengumuman kemitraan penting ini disampaikan oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki. Beliau berbicara dalam Konferensi Penyuluhan Kehutanan Nasional 2025 yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa (21/10). KTH akan menyuplai komoditas utama mereka kepada koperasi untuk selanjutnya didistribusikan.
Melalui kerja sama ini, diharapkan produk-produk unggulan dari hutan dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Hal ini juga akan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan para petani hutan. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya hutan.
Advertisement
Advertisement
Memperkuat Pemasaran Produk Hutan Unggulan
Kemitraan antara Kementerian Kehutanan dan Kopdes Merah Putih berfokus pada pengelolaan komoditas unggulan. Kelompok tani hutan akan mengelola produk seperti madu dan kopi. Di Maluku, misalnya, mereka menghasilkan rempah-rempah seperti pala dan lada.
Produk-produk ini akan disalurkan melalui Kopdes Merah Putih yang telah memiliki jaringan. Koperasi ini sudah mengoperasikan gerai kebutuhan pokok. Jaringan distribusi yang ada diharapkan dapat memperlancar akses pasar bagi produk hutan.
Rohmat Marzuki menjelaskan bahwa kerja sama ini akan memberikan platform yang kuat. Platform ini akan membantu KTH dalam meningkatkan daya saing produk mereka. Ini juga akan memperluas jangkauan pasar secara efektif.
Advertisement
Advertisement
Landasan Hukum dan Peran Koperasi
Kolaborasi antara kelompok tani hutan, penyuluh kehutanan, dan Kopdes Merah Putih memiliki landasan hukum yang kuat. Kemitraan ini selaras dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2025. Inpres tersebut mengatur percepatan pembentukan Koperasi Desa Merah Putih.
Koperasi akan berfungsi sebagai platform kolektif bagi berbagai pihak. Pihak-pihak tersebut meliputi penyuluh kehutanan, kelompok tani hutan, dan masyarakat desa hutan. Platform ini bertujuan memperkuat akses terhadap pembiayaan.
Selain itu, koperasi juga akan meningkatkan daya saing produk. Koperasi juga akan mendorong kemandirian ekonomi lokal. Peran koperasi sangat vital dalam ekosistem ekonomi kehutanan.
Advertisement
Advertisement
Capaian Ekonomi dan Kontribusi Nasional
Kementerian Kehutanan mencatat capaian signifikan dari program penyuluhan kehutanan. Sebanyak 10.050 penyuluh kehutanan telah mendampingi 27.136 kelompok tani hutan. Kelompok-kelompok ini tersebar di 38 provinsi di Indonesia.
Pendampingan ini menghasilkan Nilai Transaksi Ekonomi Kelompok Tani Hutan (NTE KTH) sebesar Rp2,9 triliun. Angka ini setara dengan sekitar 174,7 juta dolar AS. Pencapaian ini berasal dari aktivitas ekonomi 10.094 KTH.
Dukungan datang dari 3.138 penyuluh PNS, 6.029 sukarelawan masyarakat, dan 883 fasilitator swasta. Di bawah Program Perhutanan Sosial, kementerian juga mencatat Nilai Ekonomi Nasional (NEKON) sebesar Rp1 triliun. Nilai ini berasal dari 3.146 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial.
Advertisement
Angka-angka ini menunjukkan keberhasilan program penyuluhan kehutanan. Program ini mendukung masyarakat dan berkontribusi pada PDB nasional dari sektor non-swasta. Ini membuktikan potensi besar sektor kehutanan.
Sumber: AntaraNews