Terungkap, Ini Alasan 21 Bule Ditolak Masuk Semarang

Warga asing yang ditolak masuk Bandara Ahmad Yani di antaranya dari China, Tajikistan dan Myanmar.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
Terungkap, Ini Alasan 21 Bule Ditolak Masuk Semarang
Kepala TPI Kelas I Imigrasi Khusus Kota Semarang, Ari Widodo. (merdeka.com/Dannya).

21 Warga Negara Asing (WNA) mendapat penolakan saat memasuki Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. Mereka ditolak masuk lantaran terbukti memberikan keterangan palsu kepada para petugas imigrasi.

Kepala TPI Kelas I Imigrasi Khusus Kota Semarang, Ari Widodo mengatakan sejumlah warga asing yang ditolak masuk Bandara Ahmad Yani di antaranya dari China, Tajikistan dan Myanmar.

"Ada 21 WNA kita tolak masuk di Bandara Ahmad Yani. Dari hasil investigasi ternyata sudah memberikan keterangan tidak benar saat meminta visa. WNA yang tidak bisa masuk lewat bandara ini ada dari China, Tajikistan Myanmar Korea," kata Ari Widodo, Jumat (24/7).

Dia menyebut terdapat beberapa warga asing yang tidak bisa menunjukkan surat dokumen perjalanan saat hendak masuk ke Semarang. Bahkan ada yang tidak bisa meyakinkan petugas imigrasi saat dikonfirmasi untuk memberikan keterangan yang sesungguhnya.

"Dia tidak ada dokumen perjalanan. Terus juga ada juga tidak bisa berikan keterangan yang lengkap," ungkapnya.

Tak cuma itu saja, petugas juga menemukan 72 warga negara Indonesia (WNI) yang nyaris berangkat menjadi TKI melalui jalur ilegal ke sejumlah negara seperti Taiwan, China, Hongkong dan Thailand. Informasi itu diketahui selama periode Januari-Juni 2026. Namun saat digeledah kelengkapan dokumen kerjanya, mereka tidak bisa memperlihatkan buktinya.

"Jadi mereka diduga mereka berniat kerja jadi TKI ilegal kami lakukan penundaan keberangkatan dulu. Pengawasan yang ketat memang perlu kita lakukan. Supaya bisa antisipasi WNI agar tidak jadi korban TPPO," jelasnya.

Terkait keberadaan WNI yang nekat jadi TKI ilegal beresiko jadi korban aksi kejahatan scamming. Sebab kalau dilihat dweinmodus operandinya, mereka kebanyakan punya tujuan akhir ke Vietnam, Kemboja maupun Myanmar.

"Tujuan kebanyakan ke Singapura dan Malaysia. Tapi bisa jadi tujuan akhir mereka ini ke Kamboja, Myanmar dan Vietnam. Maka perlu atensi lebih untuk menangani resiko TPPO," pungkasnya.

Rekomendasi