Imbas Rupiah Melemah, 3 Sektor Usaha Ini Justru Berpotensi Panen Cuan
Ketika industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menghadapi lonjakan biaya produksi, sektor-sektor ini justru memperoleh keuntungan dari selisih kurs.
Pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah melewati Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) tidak selalu membawa kabar buruk bagi dunia usaha. Di tengah tekanan yang dialami sejumlah industri berbasis impor, sektor komoditas dan pariwisata justru berpotensi menikmati keuntungan dari menguatnya mata uang Negeri Paman Sam.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai pelemahan rupiah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Ketika industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menghadapi lonjakan biaya produksi, sektor yang berorientasi ekspor justru memperoleh keuntungan dari selisih kurs.
"Sektor komoditas seperti kelapa sawit dan pertambangan, serta industri manufaktur berorientasi ekspor, karena struktur biaya operasional mereka berbasis mata uang lokal, sementara pendapatan yang diterima berupa Dolar AS yang nilainya terus menguat," ujar Sutopo, seperti dikutip Liputan6.com, Sabtu (6/6/2026).
Sektor Pertambangan
Ia menjelaskan, sektor perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah. Pasalnya, sebagian besar transaksi ekspor minyak sawit mentah (CPO) dilakukan dalam denominasi dolar AS.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, setiap dolar hasil ekspor akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar setelah dikonversi ke mata uang domestik. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pendapatan dan profitabilitas perusahaan perkebunan.
Keuntungan serupa juga dinikmati oleh perusahaan pertambangan yang menjual komoditas seperti batu bara, nikel, tembaga, maupun emas ke pasar internasional. Pendapatan ekspor yang diterima dalam dolar AS menjadi lebih bernilai ketika dikonversikan ke rupiah.
Di sisi lain, sebagian besar biaya operasional perusahaan tambang masih menggunakan rupiah, mulai dari biaya tenaga kerja hingga berbagai kebutuhan operasional di dalam negeri. Kombinasi tersebut menciptakan ruang keuntungan yang lebih besar bagi pelaku usaha.
Pariwisata Berpotensi Kebanjiran Wisatawan Asing
Sektor pariwisata juga dipandang sebagai salah satu penerima manfaat dari melemahnya rupiah. Nilai tukar yang lebih rendah membuat biaya berwisata ke Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara.
Dengan jumlah dolar yang sama, turis asing dapat memperoleh lebih banyak rupiah untuk membiayai akomodasi, transportasi, kuliner, hingga aktivitas wisata selama berada di Indonesia.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik destinasi wisata nasional dan mendorong kenaikan jumlah kunjungan wisatawan asing, terutama dari negara-negara dengan mata uang yang lebih kuat terhadap rupiah.
"Pariwisata justru berpotensi meraup windfall profit," pungkasnya.