Ternyata Ada Emiten yang Diuntungkan dari Pelemahan Rupiah yang Tembus Rp17.000 per USD
Kondisi ini justru membelah pasar menjadi dua kubu besar yakni emiten yang diuntungkan oleh penguatan dolar AS dan emiten yang justru tertekan.
Pelemahan nilai tukar Rupiah hingga menyentuh level Rp 17.000 per USD mulai memunculkan dampak berlapis di pasar saham domestik. Kondisi ini tidak hanya menekan sentimen pasar secara umum, tetapi juga menciptakan perbedaan kinerja yang cukup tajam antar emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai, pelemahan Rupiah pada dasarnya tidak berdampak seragam. Sebaliknya, kondisi ini justru membelah pasar menjadi dua kubu besar yakni emiten yang diuntungkan oleh penguatan dolar AS dan emiten yang justru tertekan akibat kenaikan biaya serta risiko kurs.
"Pelemahan Rupiah hingga menyentuh level Rp17.000 per dolar AS pada dasarnya akan menciptakan efek yang tidak merata terhadap kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia,” kata Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (21/4).
Dari sisi makroekonomi, melemahnya Rupiah berpotensi menekan daya beli masyarakat. Kenaikan biaya impor mendorong inflasi, yang pada akhirnya membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia cenderung lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.
"Dari sisi makro, kondisi ini biasanya menekan daya beli domestik karena biaya impor meningkat, memicu inflasi, dan berpotensi membuat Bank Indonesia lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga,” ujarnya.
Di pasar saham, tekanan tersebut tercermin dari meningkatnya volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Investor asing, yang sangat sensitif terhadap risiko nilai tukar, cenderung bersikap lebih selektif atau bahkan melakukan aksi jual saat ketidakpastian meningkat.
"Dampaknya ke pasar saham, IHSG cenderung lebih volatil karena investor asing melihat risiko nilai tukar yang meningkat," ujarnya.
Emiten yang Diuntungkan
Kata Hendra, di balik tekanan tersebut, sejumlah sektor justru mendapatkan angin segar. Emiten berbasis ekspor dan komoditas menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam kondisi Rupiah melemah.
"Emiten yang memiliki pendapatan dalam dolar akan menikmati kenaikan nilai pendapatan saat dikonversi ke Rupiah, sementara emiten yang biaya atau utangnya berbasis dolar justru menghadapi tekanan margin dan risiko selisih kurs (foreign exchange loss),” ujarnya.
Di tengah pelemahan Rupiah, kata Hendra, sektor yang paling diuntungkan umumnya adalah sektor berbasis ekspor dan komoditas. Emiten batu bara, nikel, CPO, hingga minyak dan gas menjadi natural hedge karena pendapatan mereka mayoritas dalam dolar AS, sementara sebagian biaya masih dalam Rupiah.