Analis: Pelemahan Rupiah Tekan Sentimen IHSG
Pelemahan rupiah dinilai memberi tekanan sentimen pada IHSG. Investor asing cenderung menahan dana masuk meski kinerja emiten relatif stabil.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini memberikan dampak psikologis yang signifikan terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Secara mekanisme pasar, pelemahan rupiah biasanya langsung dibaca investor sebagai sinyal meningkatnya risiko makro, khususnya terkait stabilitas eksternal dan arus modal asing,” kata Hendra kepada dikutip Liputan6.com, Selasa (13/1).
Menurutnya, dalam jangka pendek dampak pelemahan rupiah lebih banyak bersifat sentimen. Kondisi tersebut mendorong investor asing untuk menahan aliran dana masuk, bahkan melakukan aksi jual guna menghindari risiko nilai tukar.
“Hal ini yang membuat IHSG rentan terkoreksi meski secara fundamental banyak emiten belum menunjukkan penurunan kinerja,” ujarnya.
Anomali Rupiah dan Faktor Domestik
Hendra menjelaskan, tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian pasar karena terjadi di saat dolar Amerika Serikat secara global justru cenderung melemah.
Kondisi tersebut dinilai sebagai anomali yang perlu dicermati pelaku pasar.
“Namun dalam kasus Indonesia, faktor domestik justru lebih dominan dibanding sentimen global,” ujarnya.
Ia menyebut kekhawatiran terhadap defisit transaksi berjalan, kebutuhan pembiayaan fiskal yang besar, serta persepsi risiko kebijakan ke depan membuat investor asing bersikap lebih selektif terhadap aset Indonesia.
Hendra menambahkan, situasi ini berbeda dengan sejumlah negara kawasan seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura yang mata uangnya relatif lebih stabil atau menguat.
“Artinya, pelemahan rupiah saat ini bukan semata karena dolar AS, tetapi karena kombinasi faktor domestik dan preferensi risiko investor,” jelasnya.