BI Jatim Prediksi Penjualan Eceran Surabaya Melonjak Jelang Idul Fitri 1447 H
Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (BI Jatim) memproyeksikan penjualan eceran di Surabaya akan mengalami peningkatan signifikan pada Maret 2026, didorong oleh persiapan menyambut Idul Fitri 1447 H.
Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur (BI Jatim) memprediksi adanya lonjakan kinerja penjualan eceran di Kota Surabaya pada Maret 2026. Peningkatan ini terungkap melalui hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) terbaru yang dirilis oleh lembaga tersebut. Proyeksi ini memberikan gambaran positif bagi aktivitas ekonomi di wilayah Surabaya.
Kepala Perwakilan BI Jatim, Ibrahim, menyatakan bahwa peningkatan ini terjadi baik secara tahunan maupun bulanan. Indeks Penjualan Riil (IPR) diperkirakan mencapai 525,2, menunjukkan pertumbuhan signifikan jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1447 Hijriah. Hal ini menandakan optimisme pasar di tengah persiapan lebaran.
Peningkatan kinerja ini terutama didorong oleh permintaan masyarakat yang melonjak untuk berbagai kebutuhan. Sektor-sektor tertentu menunjukkan pertumbuhan yang kuat, sementara beberapa lainnya masih berupaya pulih dari kontraksi. Data ini menjadi indikator penting bagi pelaku usaha dan konsumen di Surabaya.
Proyeksi Pertumbuhan Tahunan Penjualan Eceran Surabaya
Kinerja penjualan eceran di Surabaya diproyeksikan tumbuh 13,6 persen (year-on-year/yoy) pada Maret 2026. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi Februari 2026 yang tercatat sebesar 13,2 persen (yoy), menunjukkan tren positif yang berkelanjutan. Peningkatan ini mengindikasikan daya beli masyarakat yang tetap kuat menjelang momen penting.
Pertumbuhan signifikan ini didorong oleh beberapa kelompok barang utama yang mengalami peningkatan permintaan. Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Kelompok Barang Lainnya, khususnya subkelompok sandang, menjadi penyumbang terbesar. Kenaikan permintaan ini secara langsung terkait dengan persiapan masyarakat menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah, termasuk kebutuhan pakaian baru dan perlengkapan kendaraan.
Meskipun masih dalam fase kontraksi, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor menunjukkan adanya perbaikan kinerja. Sementara itu, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi terus mencatatkan pertumbuhan positif yang stabil. Diversifikasi pendorong ini menunjukkan ketahanan sektor penjualan eceran di Surabaya.
Namun, peningkatan yang lebih tinggi tertahan oleh kontraksi pada Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi serta Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya. Kedua kelompok ini mengalami penurunan yang lebih dalam, menjadi tantangan tersendiri bagi keseluruhan kinerja penjualan eceran. Pergeseran prioritas belanja masyarakat mungkin berkontribusi pada kondisi ini.
Peningkatan Bulanan dan Faktor Pendorong Utama
Secara bulanan, kinerja penjualan eceran di Surabaya pada Maret 2026 diperkirakan meningkat sebesar 8,4 persen (month-to-month/mtm). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi Februari 2026 yang hanya 4,2 persen (mtm), mencerminkan dinamika pasar yang responsif. Lonjakan ini menunjukkan efek langsung dari persiapan hari raya.
Peningkatan bulanan ini didorong oleh mayoritas kelompok barang yang menunjukkan kinerja positif dan signifikan. Kelompok Barang Lainnya (subkelompok sandang), Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, serta Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi menjadi kontributor utama. Hal ini mengindikasikan permintaan yang merata di berbagai sektor yang berkaitan dengan kebutuhan lebaran.
Faktor utama pendorong peningkatan ini adalah melonjaknya permintaan masyarakat menjelang HBKN Idul Fitri 1447 Hijriah. Selain itu, ekspektasi kelancaran distribusi barang juga turut mendukung optimisme pasar dan ketersediaan produk. Ketersediaan pasokan yang memadai menjadi kunci dalam memenuhi kebutuhan konsumen yang meningkat drastis.
Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Kelompok Barang Budaya dan Rekreasi juga mencatat pertumbuhan positif, meskipun lajunya sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya masih mencatatkan kontraksi, menunjukkan adanya disparitas kinerja antar kelompok barang yang perlu dicermati lebih lanjut.
Sumber: AntaraNews