Kopi Hambalang hingga Nasi Bakar, Menu Favorit Presiden Prabowo yang Sarat Makna
Hal itu bukan sebatas menu yang ada di meja seperti bakso, nasi bakar dan kopi Hambalang.
Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan memiliki catatan khusus soal menu makanan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut dia, hal itu bukan sebatas menu yang ada di meja seperti bakso, nasi bakar dan kopi Hambalang. Namun lebih mengenyangkan dari itu, pelajaran hidup dari falsafah hidup Jawa.
"Kalau anda bertanya pada orang-orang yang sering makan bersama Presiden, mereka pasti bilang ada tiga menu khas di meja makan beliau: Kopi Hambalang, bakso, dan nasi bakar. Saya termasuk yang beruntung bisa mengenal Presiden RI ke 8 dari sekian kali makan bersamanya," tulis Yuza dalam pesan singkat yang dikutip dari Liputan6.com, Selasa (16/6/2026).
Yuza menyebut, menu bakso dan nasi bakar, juga hampir selalu hadir di meja makan Istana dan di penerbangan dalam dan luar negeri Presiden. Bahkan, ketika sedang perjalanan dinas, di udara, ada yang disiapkan tim chef on board Garuda Indonesia.
"Salah satunya Chef Yudi Mulyadi, koki asli Cimahpar, Bogor yang telah menjadi chef di Garuda Indonesia sejak 2012. Untuk penerbangan jarak jauh, Chef Yudi dan tim seringkali harus masak bakso dan nasi bakar di pesawat saat sedang terbang. Kalau ada bahan yang kurang, kita tidak bisa tiba-tiba beli bahan di warung," canda Yuza.
Yuza mencontohkan, daun pembungkus nasi bakar tidak bisa sembarang daun. Chef Yudi harus bawa daun yang tepat, dengan jumlah yang cukup, dari Indonesia.
"Karena lidah orang Indonesia khas, hampir seluruh bahan masakan baku harus dibawa dari Indonesia. Fun fact, di setiap penerbangan jarak jauh Presiden, area crew rest tidak dipakai untuk istirahat karena dipakai untuk simpan sembako," seru dia.
Menu yang Tak Terlihat di Meja Makan
Namun sesungguhnya, menurut Yuza, menu paling menarik dalam setiap sesi makan bersama Presiden Prabowo tidak pernah tercantum di buku menu atau terlihat di meja makan. Hal itu ialah pelajaran hidup.
“Chef” dari menu yang satu ini bukan koki Istana atau koki pribadi Presiden. “Chef-nya” adalah R.M. Margono Djojohadikusumo. Pendiri Bank Negara Indonesia (BNI), Anggota BPUPKI yang mana adalah Kakek Presiden Prabowo sendiri.
"Dari beliau, dan dari guru-guru yang ditemuinya sepanjang hidup, Presiden Prabowo menyerap banyak falsafah Jawa yang kemudian menjadi fondasi cara berpikirnya, dan fondasi caranya membuat keputusan. Hampir tidak ada sesi makan bersama yang saya lalui bersama Presiden Prabowo tanpa pulang membawa pelajaran baru," catat Yuza.
Salah satu pelajaran yang paling sering muncul adalah becik ketitik ala ketara yang baik akan terlihat, yang buruk akan terungkap.
"Saat menghadapi fitnah atau tuduhan yang tidak benar, Presiden sering mengingatkan bahwa kebenaran memiliki cara untuk menemukan jalannya sendiri, walau tidak cepat apalagi instan," tegas Yuza.
Wejangan berikutnya, adalah sabdo pandito ratu yang berarti Ucapan seorang pemimpin adalah janji. Karena itu, ia selalu mengingatkan untuk selalu berhati-hati dengan janji-janji yang kita disampaikan kepada publik.
"Prinsip berikutnya adalah rame ing gawe, sepi ing pamrih atau banyaklah bekerja, sedikitlah menuntut imbalan. Mungkin inilah salah satu prinsip yang paling sering saya dengar darinya. Fokuslah pada pekerjaan, bukan pada mendapatkan pujian," pesan Yuza.
Yuza melanjutkan, presiden juga sering mengingatkan ojo dumeh atau jangan sombong karena jabatan, kekuasaan, atau keberhasilan. Alasamnya, keadaan dapat berubah kapan saja.
"Berpasangan dengan ojo dumeh adalah ojo ngoyo atau jangan memaksakan kehendak di luar kemampuan. Ambisi penting, tetapi harus disertai perhitungan kemampuan yang matang," wanti Yuza.
Soal Kepemimpinan, Kekayaan dan Perjuangan Politik
Terlepas dari itu, dalam soal kepemimpinan, Yuza menegaskan tidak ada ajaran yang lebih sering dikutipnya daripada ing ngarsa sung tulada. Artinya, pemimpin harus di depan memberi teladan.
"Seorang pemimpin tidak cukup hanya memberi perintah. Ia harus menjadi contoh," pesan Yuza.
Tentang kekayaan, Yuza mengutip pernyataan yang sering mengingatkan bahwa agar sugih tanpo bondo yang berarti Kaya tanpa harta. Sebab kekayaan sejati bukan terletak pada apa yang dimiliki, melainkan pada nilai, prinsip, kehormatan, dan pengabdian.
"Dalam perjuangan politik, saya berkali-kali mendengar falsafah menang tanpo ngasorake atau Kemenangan yang terbaik adalah kemenangan yang tetap menjaga martabat semua pihak. Dan pada akhirnya, kuliah kepemimpinan di meja makan Presiden selalu bermuara pada satu ukuran sederhana yang sering Presiden kutip dari Cak Nur, mantan Gubernur Jawa Timur: yen wong cilik iso gumuyu Jika rakyat kecil bisa tersenyum, berarti kita berada di jalan yang benar," Yuza menandasi.