Respons BI Soal Rupiah Tembus Rp17.300
Rupiah menembus Rp17.300 per dolar AS. BI menyebut tekanan global sebagai pemicu dan memperkuat intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hingga menembus level Rp17.300 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (23/4/2026).
Bank Indonesia menyebut kondisi ini dipicu meningkatnya ketidakpastian global yang turut memengaruhi mata uang di kawasan.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren yang terjadi di negara-negara lain.
"Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional," kata Destry.
Tekanan Global Dorong Pelemahan Rupiah
Secara kumulatif sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah sebesar 3,54 persen.
Bank Indonesia menilai pergerakan tersebut masih dalam kisaran yang wajar jika dibandingkan dengan mata uang lain di kawasan yang menghadapi tekanan serupa.
"Pergerakan Rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen," ujarnya.
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat turun 108 poin atau 0,63 persen menjadi Rp17.289 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.181. Berdasarkan data pasar, nilai tukar sempat menyentuh level Rp17.300 sekitar pukul 09.00 WIB.
Intervensi BI Diperkuat di Berbagai Pasar
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, baik di luar negeri maupun domestik.
Langkah tersebut dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri.
"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder," ujarnya.
Selain itu, otoritas moneter juga memperkuat kebijakan suku bunga instrumen keuangan guna menjaga daya tarik investasi di dalam negeri. Dari sisi fundamental, cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level tinggi, yakni USD148,2 miliar per akhir Maret 2026.
"Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD148,2 miliar pada akhir Maret 2026," kata Destry.
Bank Indonesia menyatakan akan terus berada di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.