Sekjen PDIP Hasto Soroti Kritik Sosial dalam Film "Ghost in the Cell" di Bulan Bung Karno
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti kritik sosial film "Ghost in the Cell" karya Joko Anwar di Bulan Bung Karno 2026, menyebutnya cerminan perlawanan terhadap kapitalisme.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto memberikan perhatian khusus terhadap kritik sosial yang disajikan dalam film Ghost in the Cell. Penyorotan ini dilakukan dalam rangkaian acara Bulan Bung Karno 2026 yang berlangsung di Jakarta pada Minggu, 7 Juni 2026. Hasto menyampaikan pandangannya usai acara nonton bareng film tersebut, menggarisbawahi relevansi pesan yang diusung.
Film besutan sutradara Joko Anwar ini, yang telah berhasil dibeli hak tayangnya oleh 148 negara, dinilai Hasto memiliki korelasi kuat dengan semangat perjuangan Bapak Proklamator Soekarno. Secara spesifik, film tersebut menggambarkan perlawanan terhadap praktik kapitalisme dan imperialisme. Pesan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Menurut Hasto, Ghost in the Cell secara cerdas mampu menyampaikan kritik mendalam terhadap tata kelola negara. Kritik tersebut dilandasi oleh keserakahan yang diwakili oleh karakter Prakasa Kitabuming. Film ini diharapkan dapat menggugah kesadaran publik untuk membangun peradaban yang lebih baik.
Menguak Perlawanan terhadap Kapitalisme dan Simbolisme dalam Film
Hasto Kristiyanto secara eksplisit menyatakan bahwa film Ghost in the Cell mampu mengungkapkan esensi perlawanan Bung Karno terhadap kapitalisme dan imperialisme. Ia menjelaskan bahwa bentuk-bentuk kapitalisme dan imperialisme ini selalu menampilkan wajah baru, namun pada dasarnya didorong oleh nafsu keserakahan. Pesan ini disampaikan secara gamblang melalui narasi film yang kuat.
Lebih lanjut, Hasto menyoroti kecerdasan Joko Anwar dalam menyampaikan kritik terhadap tata kelola negara yang dilandasi keserakahan. Karakter Prakasa Kitabuming, yang diperankan oleh Arswendy Bening Swara, menjadi representasi pengusaha tamak. Bahkan saat dipenjara karena kasus korupsi, Prakasa masih menikmati kemewahan yang luar biasa, menunjukkan ironi sistemik.
Hasto juga menganalisis makna simbolik di balik karakter Prakasa Kitabuming. Ia menyebutkan bahwa Prakasa berasal dari Solo dan memiliki nomor registrasi 2106 1961. Angka-angka ini dianggap sangat simbolik, menjadikan film ini sebagai karya yang mencerdaskan dan penuh makna tersembunyi.
Film bergenre horor komedi ini tidak hanya menghadirkan ketegangan dan tawa, tetapi juga berhasil menyampaikan kritik yang relevan. Hasto berharap film ini dapat menjadi pengingat bagi banyak pihak. Ia menekankan bahwa jika negara tidak dikelola dengan baik, berbagai kritik sosial, politik, dan kehidupan berbangsa dapat benar-benar terjadi seperti yang digambarkan dalam film.
Film sebagai Medium Kritik dan Apresiasi Seni
Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo turut memberikan pandangannya mengenai Ghost in the Cell. Ia menyebutkan bahwa film yang tayang perdana di Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 pada Februari lalu ini mengandung satire yang tajam. Sindiran dalam film tersebut dinilai cukup "nyelekit", meskipun elemen horornya juga sangat menyeramkan.
Ganjar menambahkan bahwa pesan-pesan yang disampaikan melalui film ini berhasil sampai kepada penonton. Ia menggarisbawahi bahwa film tersebut secara efektif menunjukkan kondisi republik yang digambarkan. Bulan Bung Karno, menurut Ganjar, menjadi momentum yang tepat untuk mendengarkan berbagai keresahan publik yang diekspresikan melalui medium seni.
Acara nonton bareng Ghost in the Cell ini diselenggarakan oleh Badan Kebudayaan Nasional (BKN) PDI Perjuangan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengapresiasi karya anak bangsa sekaligus menjaga api semangat pemikiran Bung Karno.
Ketua BKN PDI Perjuangan, Once Mekel, menjelaskan alasan pemilihan film ini. Menurutnya, Ghost in the Cell dipilih karena mengandung ruang ekspresi kritis yang kuat, didukung oleh sinematografi dan skenario yang ciamik. Once menekankan pentingnya ruang ekspresi semacam ini bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan kritik.
Sumber: AntaraNews