Hasto Soroti Pelemahan Rupiah dan Korupsi, Ingatkan Semangat Trisakti Bung Karno
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menyoroti pelemahan rupiah dan korupsi saat peringatan hari lahir Bung Karno, menegaskan pentingnya tata kelola pemerintahan yang baik dan relevansi Trisakti.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyoroti serius kondisi pelemahan nilai tukar rupiah dan maraknya praktik korupsi di Indonesia. Sorotan ini disampaikan dalam peringatan hari lahir Presiden pertama RI Soekarno yang ke-125. Ia menegaskan bahwa situasi ekonomi dan hukum saat ini memerlukan perhatian mendalam dari seluruh elemen bangsa.
Menurut Hasto, berbagai permasalahan tersebut merupakan indikasi nyata dari tata kelola pemerintahan yang belum berjalan secara optimal. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memicu tekanan signifikan pada geliat sektor riil nasional. Korupsi, khususnya yang berkedok kebijakan populis, menjadi buah pahit dari tata kelola yang tidak efektif.
Dalam konteks peringatan Bung Karno, Hasto mengingatkan kembali pentingnya semangat proklamator dalam menghadapi ketidakadilan dan kolonialisme. Ia menekankan bahwa perjuangan Bung Karno bukan melawan individu, melainkan nafsu yang menghisap serta menyengsarakan rakyat. Semangat ini harus terus relevan sebagai kompas perjuangan bangsa.
Tata Kelola Pemerintahan dan Dampak Ekonomi
Hasto Kristiyanto secara tegas menyatakan bahwa pelemahan rupiah, penurunan indeks harga saham, dan tekanan pada sektor riil merupakan cerminan dari tata kelola negara yang belum baik. Ia menyoroti bahwa berbagai kasus korupsi, terutama yang muncul dari kebijakan populis, memperparah kondisi ini. Hal ini menunjukkan adanya celah dalam sistem yang memungkinkan praktik-praktik merugikan negara dan rakyat.
Lebih lanjut, Hasto menilai bahwa lemahnya sistem hukum turut berkontribusi terhadap munculnya berbagai bentuk ketidakadilan di masyarakat. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi pertumbuhan ekonomi yang sehat dan berkeadilan. Oleh karena itu, perbaikan tata kelola dan penegakan hukum menjadi krusial untuk mengatasi persoalan ekonomi.
Pernyataan Hasto ini menggarisbawahi urgensi untuk mengevaluasi dan memperbaiki fondasi tata kelola pemerintahan. Tanpa perbaikan yang fundamental, tantangan ekonomi seperti pelemahan rupiah akan terus menjadi ancaman. Korupsi yang merajalela juga akan terus menggerogoti kepercayaan publik dan menghambat kemajuan bangsa.
Relevansi Semangat Bung Karno dan Trisakti
Dalam kesempatan tersebut, Hasto Kristiyanto menekankan pentingnya kembali pada semangat perjuangan Soekarno. Bung Karno mengajarkan bahwa yang dilawan bukanlah individu, melainkan nafsu yang menghisap dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Semangat ini relevan untuk melawan praktik korupsi dan ketidakadilan yang masih terjadi.
Hasto juga menyoroti pentingnya menjadikan Trisakti Bung Karno sebagai pedoman utama dalam memperkuat bangsa. Trisakti mencakup tiga prinsip fundamental: berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Penerapan Trisakti diharapkan dapat menjadi solusi konkret untuk tantangan saat ini.
Menurut Hasto, implementasi Trisakti secara konsisten akan memperkuat fondasi bangsa secara menyeluruh. Prinsip-prinsip ini tidak hanya relevan untuk mengatasi masalah ekonomi dan hukum, tetapi juga untuk membangun identitas nasional yang kuat. Trisakti adalah kehendak dan tekad untuk menjadi bangsa yang tangguh menghadapi sistem yang menyengsarakan rakyat.
Kompas Perjuangan Bangsa Menuju Keadilan
Gagasan Trisakti Bung Karno, menurut Hasto, telah terbukti menjadi landasan dan kompas perjuangan bangsa Indonesia. Konsep ini menyediakan kerangka kerja yang jelas untuk mencapai kemandirian dan keadilan. Dengan berpegang teguh pada Trisakti, Indonesia dapat menegakkan sistem hukum yang adil dan membangun perekonomian yang kuat untuk kesejahteraan rakyat.
Hasto berharap agar seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dapat menjadikan pemikiran Soekarno sebagai kompas dalam setiap upaya memajukan bangsa. Semangat api perjuangan Bung Karno harus terus dinyalakan untuk menghadapi berbagai tantangan. Ini termasuk komitmen untuk memberantas korupsi dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Dengan menginternalisasi nilai-nilai Trisakti, Indonesia dapat membangun ketahanan nasional yang kokoh. Hal ini akan memungkinkan bangsa untuk menghadapi gejolak ekonomi global dan internal dengan lebih baik. Penegakan hukum yang kuat dan ekonomi yang berdikari adalah kunci untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang sejati.
Sumber: AntaraNews