Ajakan Taubat Ekologis Menteri Jumhur Dinilai Tepat, Toto: Kita Sudah Lama Berdosa pada Alam
Gagasan tersebut dianggap tidak hanya mengajak masyarakat menjaga alam, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif untuk mengakui kesalahan.
Ajakan Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, untuk melakukan "Taubat Ekologis" dinilai sebagai langkah yang tepat dan relevan dalam menjawab berbagai persoalan lingkungan yang kian kompleks.
Gagasan tersebut dianggap tidak hanya mengajak masyarakat menjaga alam, tetapi juga mendorong kesadaran kolektif untuk mengakui kesalahan dalam pengelolaan lingkungan serta memperbaiki hubungan manusia dengan alam secara lebih bertanggung jawab.
Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai ajakan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat tersebut merupakan gagasan yang sangat relevan dengan kondisi lingkungan hidup yang dihadapi Indonesia saat ini.
Menurut Toto, istilah Taubat Ekologis memiliki kekuatan moral yang lebih mendalam dibandingkan berbagai jargon lingkungan yang selama ini kerap digunakan. Sebab, kata "taubat" mengandung makna pengakuan atas kesalahan yang telah dilakukan serta komitmen untuk tidak mengulanginya.
"Ajakan Pak Menteri Jumhur itu patut disambut positif. Momennya sangat tepat," kata Toto kepada pers di Jakarta, Minggu (8/6/2026).
Pengakuan Bersama
Aktivis pengrajin bambu itu menjelaskan bahwa dalam konteks lingkungan hidup, Taubat Ekologis harus dipahami sebagai pengakuan bersama bahwa manusia selama ini telah banyak merusak alam melalui berbagai aktivitas yang mengabaikan aspek keberlanjutan.
Ia menyoroti berbagai bentuk kerusakan lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Mulai dari penebangan hutan tanpa pemulihan yang memadai, pengerukan sumber daya bumi tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan, hingga pencemaran sungai, laut, dan kawasan pesisir.
Selain itu, alih fungsi lahan produktif serta pengorbanan ruang hidup masyarakat atas nama pembangunan juga menjadi bagian dari persoalan yang harus diakui secara jujur.
"Intinya, selama ini alam selama ini lebih banyak dipandang sebagai objek eksploitasi daripada sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga," ungkapnya.
Berbagai Bencana Ekologis
Toto menegaskan bahwa berbagai bencana ekologis yang kini semakin sering terjadi sejatinya merupakan konsekuensi dari tindakan manusia sendiri. Menurut dia, banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, kebakaran hutan hingga meningkatnya suhu bumi tidak muncul begitu saja.
"Banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir, dan meningkatnya suhu bumi tidak datang begitu saja. Disitu ada keserakahan, kelalaian, pembiaran, serta kebijakan yang sering kali tidak ramah terhadap alam," tegasnya.
Meski demikian, Toto mengingatkan bahwa konsep Taubat Ekologis tidak boleh berhenti pada seruan atau slogan semata. Sebagaimana makna taubat dalam ajaran agama, perubahan harus dibuktikan melalui tindakan nyata dan perubahan perilaku.
Ia menilai pemerintah perlu segera menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam kebijakan yang konkret, mulai dari evaluasi izin usaha yang berpotensi merusak lingkungan, penindakan terhadap perusahaan pencemar, pemulihan kawasan kritis, hingga penghentian pembangunan yang melampaui daya dukung alam.
"Taubat tanpa perubahan perilaku hanya akan menjadi kata-kata. Begitu pula Taubat Ekologis tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata hanya akan menjadi slogan yang indah, tetapi kosong," ujarnya.
Menjaga Lingkungan
Toto juga mengingatkan agar tanggung jawab menjaga lingkungan tidak hanya dibebankan kepada masyarakat. Menurut dia, dunia usaha dan pemerintah harus menunjukkan komitmen yang sama dalam menjalankan prinsip-prinsip keberlanjutan.
"Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Toto menyampaikan dukungannya terhadap gagasan penanaman dua miliar pohon yang diusung Menteri Jumhur. Ia menilai langkah tersebut berpotensi memberikan dampak besar terhadap perbaikan tutupan lahan, penyerapan karbon, pelestarian sumber air, hingga pemulihan ekosistem yang rusak.
Namun, ia menekankan bahwa target dua miliar pohon harus disertai perencanaan yang jelas dan terukur. Publik, kata dia, perlu mengetahui jenis pohon yang akan ditanam, lokasi penanaman, luas lahan yang tersedia, mekanisme perawatan, hingga sumber pendanaannya.
Menurut Toto, keberhasilan penghijauan tidak bisa diukur dari jumlah bibit yang ditanam saat seremoni, melainkan dari tingkat keberlangsungan hidup pohon dalam jangka panjang.
"Dari pengalaman selama ini, menanam itu relatif mudah. Yang sulit adalah memastikan pohon itu tumbuh, dirawat, terlindungi, dan memberi manfaat ekologis maupun ekonomi kepada masyarakat," jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan karakteristik wilayah. Di kawasan sumber air, misalnya, diperlukan pohon yang mampu memperkuat fungsi hidrologis, sementara di daerah rawan longsor dibutuhkan tanaman dengan sistem perakaran yang kuat.
"Sementara di wilayah pedesaan, dapat dikembangkan tanaman produktif yang sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," tegasnya.
Toto berharap konsep Taubat Ekologis dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kewajiban seluruh elemen bangsa demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang.