Mahasiswa ITB Ciptakan Helm Pintar Pendeteksi Kantuk, Solusi Kurangi Kecelakaan Pemotor
Inovasi brilian dari mahasiswa ITB hadir melalui Helm Pintar Pendeteksi Kantuk bernama SADAR Helmet. Alat ini siap menjadi terobosan keselamatan pengendara motor di Indonesia, terutama untuk mengatasi bahaya microsleep.
Sebuah inovasi penting dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas telah lahir dari tangan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Tiga mahasiswa Teknik Industri ITB yang tergabung dalam Tim iConic berhasil mengembangkan "SADAR Helmet", sebuah Helm Pintar Pendeteksi Kantuk berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang khusus untuk pengendara sepeda motor.
Helm cerdas ini mampu mendeteksi gejala microsleep atau mengantuk pada pengendara, yang merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan di jalan raya. Inovasi ini tidak hanya relevan, tetapi juga sangat dibutuhkan mengingat dominasi sepeda motor dalam angka kecelakaan nasional.
Keberhasilan Tim iConic dengan SADAR Helmet juga telah diakui secara nasional, dengan meraih juara dua dalam ajang Smart Safety Competition (SASECOM) 2026. Kompetisi bergengsi ini diselenggarakan oleh OSH Forum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM Undip), menunjukkan potensi besar dari penemuan ini.
Inovasi Unggulan SADAR Helmet
SADAR Helmet merupakan sebuah terobosan teknologi yang memanfaatkan kemajuan IoT dan konsep smart mobility untuk menciptakan sistem keselamatan yang lebih preventif dan terjangkau. Mahesya Friemay Romadhoni, perwakilan Tim iConic ITB, menyatakan bahwa perkembangan teknologi ini membuka peluang besar untuk solusi keselamatan yang mudah diimplementasikan.
Salah satu keunggulan utama dari Helm Pintar Pendeteksi Kantuk ini adalah desainnya yang bersifat retrofit. Artinya, perangkat pemantau dapat dipasang langsung pada helm standar SNI yang sudah banyak beredar di pasaran, tanpa perlu mengubah struktur asli helm tersebut.
Fleksibilitas desain ini membuat biaya implementasi SADAR Helmet jauh lebih terjangkau dibandingkan sistem pendeteksi kantuk lain yang berbasis kamera atau EEG. Teknologi ini mengintegrasikan sensor Photoplethysmography (PPG) untuk membaca detak jantung dan Heart Rate Variability (HRV), serta sensor akselerometer dan giroskop.
Sensor-sensor tersebut berfungsi untuk memantau gerakan kepala pengendara secara seketika, kemudian data yang terkumpul akan diolah menggunakan metode machine learning dan sensor fusion. Proses ini memungkinkan sistem untuk mengklasifikasikan kondisi kantuk pengendara secara akurat dan memberikan peringatan preventif berupa getaran, suara, atau notifikasi digital sebelum kecelakaan terjadi.
Proses Pengembangan dan Tantangan
Proses perancangan prototipe Helm Pintar Pendeteksi Kantuk ini melibatkan dedikasi dan kerja keras dari Tim iConic. Rizky Miftah Alfiah, salah satu anggota tim, mengungkapkan bahwa perancangan ini memanfaatkan perangkat lunak SolidWorks dan AutoCAD.
Validasi keamanan yang ketat berdasarkan jurnal ilmiah juga menjadi bagian penting dari proses pengembangan, meskipun di tengah padatnya jadwal perkuliahan. Tim menghabiskan banyak waktu untuk brainstorming demi mendapatkan ide SADAR Helmet yang matang.
Keterkaitan dengan mata kuliah Pengembangan Produk dan Bisnis, serta kajian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Teknik Industri, turut memperkuat fondasi riset mereka. Pengalaman ini menunjukkan bahwa inovasi tidak hanya berasal dari ide cemerlang, tetapi juga dari proses riset yang kuat dan kerja sama tim.
Visi Masa Depan dan Potensi Kolaborasi
Tim iConic memiliki visi besar untuk pengembangan SADAR Helmet di masa mendatang. Muhammad Yasser Saputro, anggota tim lainnya, berharap inovasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut melalui integrasi dengan aplikasi gawai.
Selain itu, fitur pelacakan GPS, pemantauan komputasi awan (cloud), hingga analisis berbasis kecerdasan buatan (AI) diharapkan dapat meningkatkan akurasi deteksi kantuk. Pengembangan ini akan menjadikan Helm Pintar Pendeteksi Kantuk semakin canggih dan efektif.
Saat ini, Tim iConic sedang membidik peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk industri helm nasional, sektor otomotif, dan pemerintah. Tujuan utama kolaborasi ini adalah agar teknologi penekan angka kecelakaan lalu lintas ini dapat diproduksi secara massal dan menjangkau lebih banyak pengendara.
Mahesya Friemay Romadhoni menekankan bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya bergantung pada ide yang bagus, tetapi juga pada riset yang kuat, kerja sama tim, komunikasi yang baik, dan kemampuan memahami permasalahan nyata di masyarakat.
Sumber: AntaraNews